Tandan Pisang

Loading...

Selasa, 01 Mei 2012

Makna Perjamuan Kudus


Makna Perjamuan Kudus

Pendahuluan

Siapa yang tidak mengenal Leonardo da Vinci, seorang arsitek, musisi, penulis, pematung, dan pelukis yang memiliki banyak karya-karya indah. Lukisannya yang sangat terkenal adalah Jamuan Terakhir dan Mona Lisa. Lukisannya yang berjudul Jamuan Terakhir (The Last Supper) merupakan sebuah lukisan yang dilukisnya di dinding biara Santa Maria di Milan pada tahun 1495-1497 yang menggambarkan bagaimana suasana suatu Perjamuan Malam yang dilakukan oleh Yesus bersama dengan murid-muridNya [1].
Mungkin bila mendengar kata Perjamuan Malam, setiap orang secara spontan akan membayangkan suatu pesta jamuan makan malam meriah dengan dihadiri oleh banyak orang dan sanak saudara. Mungkin saja seperti sebuah jamuan makan malam di hari Natal yang hampir dirayakan oleh tiap-tiap keluarga pada saat malam Natal. Namun, dalam hal ini perjamuan yang ada dibenak kita dengan Perjamuan Malam yang penulis maksudkan dalam paper ini mungkin sedikit berbeda. Perjamuan Malam biasanya dipakai untuk menyebutkan perjamuan perpisahan yang dirayakan oleh Yesus bersama para muridNya pada petang hari sebelum Ia ditangkap dan menderita (Mark 14:17-26; Mat 26:20-30; Luk 22:14-20; 1Kor 11:23-25). Dalam perayaannya, Perjamuan Malam adalah salah satu perayaan yang paling penting dari gereja-gereja kita. Di Indonesia sendiri, Perjamuan Malam merupakan puncak dari hidup kegerejaan kita karena kecuali hari raya Natal, tidak ada perayaan gerejani lainnya yang begitu baik dipersiapkan selain perayaan Perjamuan Malam. Persiapan itu dapat berupa persiapan diri sendiri (=hidup), pakaian (umumnya yang berwarna hitam atau kehitam-hitaman) yang akan dikenakan pada waktu perayaan Perjamuan Malam, kolekte (=”korban”) yang akan dipersembahkan dalam perayaan itu, kain meja, alat-alat Perjamuan Malam (=piring-piring roti dan cawan-cawan anggur) dikeluarkan dari tempatnya, dicuci dan dibersihkan, ruangan tempat berlangsungnya perjamuan juga ditata rapi dan bersih sehingga perayaannya akan berlangsung dengan khidmat.
Perjamuan Malam merupakan awal dari Perjamuan Kudus yang kita lakukan hingga kini. Perjamuan Malam itu sendiri adalah suatu perjamuan akhir sebelum pengadilan dan penyaliban Yesus, yang diadakan bersama murid-muridNya di kamar loteng[2]. Sebutan Perjamuan Malam juga sering disebut dengan Perjamuan Tuhan yang berasal dari perkataan Rasul Paulus dalam 1 Kor. 11: 20. Perjamuan Malam disebut pula Perjamuan Kudus atau ekaristi yang berarti pengucapan syukur, bergembira, berterima kasih. Oleh karena itu, untuk mengetahui lebih lanjut mengenai Perjamuan Kudus, dalam paper ini akan dibahas tentang apa itu Perjamuan Kudus dan apa makna dari Perjamuan Kudus agar kita semakin mengerti tentang Perjamuan Kudus dan tidak melakukan Perjamuan Kudus hanya sebagai sebuah rutinitas tahunan mengikuti apa yang telah ditetapkan oleh gereja kita.


Perjamuan Kudus

Pada mulanya jumlah sakramen belum tetap. Petrus Lombardus menyebutkan ada tujuh sakramen, yaitu baptisan, konfirmitas, ekaristi, tobat, urapan, tahbisan, dan pernikahan. Gereja Timur dan Gereja Anglikan menerima ketujuh sakramen ini, namun Gereja-gereja Prostestan hanya menerima dua sakramen, yakni Baptisan dan Perjamuan Malam atau Perjamuan Kudus[3].
Menurut Kamus Alkitab, perjamuan memiliki dua arti. Arti yang pertama adalah jamuan makan malam resmi yang untuknya dikirimkan undangan. Pada saat terakhir, para undangan akan diberitahukan jika pesta benar-benar sudah siap (Luk. 14: 7). Tempat duduk diatur menurut penilaian tuan rumah terhadap tamu-tamunya. Arti yang kedua, apabila dua orang asing bertemu di gurun dan makan bersama, maka terbentuklah suatu ikatan kukuh yang tidak dapat ditiadakan. Jamuan itu biasanya terdiri dari sayur-sayuran dan daging yang darahnya sudah diperas sampai habis. Sedangkan arti dari Perjamuan Kudus atau ekaristi itu sendiri adalah salah satu sakramen yang dikenal di dalam Gereja Kristen. Istilah ekaristi yang berasal dari bahasa Yunani ευχαριστω, yang berarti berterima kasih, bergembira atau pengucapan syukur. Istilah ekaristi lebih sering digunakan oleh gereja Katolik, Anglikan, Ortodoks Timur, dan Lutheran, sedangkan istilah Perjamuan Kudus digunakan oleh gereja Protestan. Perjamuan Kudus didasari pada makan malam terakhir Yesus dengan murid-muridnya pada malam sebelum ia ditangkap dan disalibkan (Markus 14:12-21). Namun selain itu, perayaan Perjamuan Kudus sudah ada sejak lama (diceritakan dalam Perjanjian Lama) yang menjadi patrun Yesus pada Perjamuan Malam yang dirayakanNya bersama dengan murid-muridNya.
Asal muasal Perjamuan Kudus adalah dari sebuah ritus Paskah di dalam tradisi Yahudi pada masa Perjanjian Lama yaitu ketika di malam terakhir bangsa Israel akan keluar dari tanah Mesir. Sebelum kedatangan malaikat maut, mereka diharuskan untuk memakan roti tak beragi, sayur pahit, dan sebagainya. Sejak saat inilah perayaan Paskah ditetapkan di dalam Israel dengan istilah hari Raya Paskah Tak Beragi. Pada perkembangannya, Paskah di dalam Perjanjian Lama ini menjadi inspirasi atau tipologi bagi Paskah pada masa Perjanjian Baru, yang dipusatkan pada pengorbanan diri Kristus di atas kayu salib, demi menebus dosa manusia. Ada perkembangan di dalam istilah Paskah pada masa PL dan Paskah pada masa PB yaitu jika paskah pada masa PL merupakan sebuah bentuk karya penyelamatan Allah kepada bangsa Israel agar bangsanya dapat keluar dari tanah perbudakan Mesir. Paskah pada masa PB memilki makna yaitu keluarnya manusia dari perbudakan dosa melalui karya penyelamatan Allah di dalam diri Kristus.
Perjamuan Malam yang dilakukan Yesus pada malam terakhir ia bersama muridNya berbeda dengan Perjamuan Malam seperti yang dikisahkan dalam PL. Kendati demikian, pola perjamuannya tetap sama, yang berbeda adalah orang-orang yang hadir didalamnya dan adanya penekanan dari Yesus bahwa tubuhnya adalah sebuah peringatan, “Inilah tubuhKu! Inilah darahKu!”. Oleh karena itu, sejak saat itu, setiap orang yang percaya dalam Kristus, dapat melakukan Perjamuan Kudus ini. Tidak peduli mereka dari kaum termarjinalkan yang minoritas seperti orang miskin ataupun dari kaum bangsawan, ahli taurat, atau ahli agama sekalipun. Semua dapat duduk bersama dalam Perjamuan Kudus yang telah dilegalkan oleh Kristus melalui persembahan tubuhnya. Konsep perjamuan Yesus inilah yang menjadi patrun untuk Perjamuan Kudus hingga kini.


Perayaan Perjamuan Kudus

Merayakan Perjamuan Kudus atau ekaristi juga merupakan cara berhubungan dengan wafat dan kebangkitanNya Yesus Kristus. Melalui ekaristi, para undangan itu ikut serta dalam misteri Paskah. Dengan melakukan makan akan santapan ini, kita mewartakan kematian Tuhan. Sementara cawan dan roti adalah simbol tentang kematian Kristus dan digunakan untuk memperingati kematianNya (I Kor 11:25). Di dalam pelaksanaannya di jemaat mula-mula, Perjamuan Kudus mengajarkan pada jemaat untuk mengingat dan merayakan kematian Tuhan Yesus sampai pada penantian kedatanganNya yang kedua kalinya. Ekaristi adalah santapan kurban salib. Hal ini terungkap melalui santapan ini yaitu Perjanjian Baru yang telah ditandai dengan darah Putera Allah. Kerajaan Allah yang pernah ditawarkan sebagai suatu pesta, kini diwahyukan dalam santapan ini. Persatuan umat Kristen dikuatkan dalam santapan ini. Kesatuan tubuh Kristus digambarkan dalam Perjamuan Tuhan. Karena roti adalah satu maka kita sekalipun banyak adalah satu tubuh karena kita semua mendapat bagian dari roti yang satu itu (1 Kor 10:17).
Paulus menggunakan lambang satu roti yang dipecah-pecahkan dan dibagikan kepada para penyembah untuk melukiskan kesatuan anggota-anggota. Kesatuan harus ada di antara orang-orang yang ikut ambil bagian Perjamuan Kudus karena mereka telah memiliki persatuan dengan Kristus sebelumnya. Perihal minum dari cawan adalah keikutsertaan dalam darah Kristus dan makan roti adalah keikutsertaan dalam tubuh Kristus (I Kor 10:16). Orang-orang percaya menemukan kesatuannya dalam Kristus.
            Paulus juga menekankan bahwa santapan ini mengandung daya-daya eskatologis umat Allah dalam perjalanan mereka menuju tanah terjanji. Santapan ini merupakan santapan untuk akhir jaman bersama dengan Kristus. Di dalam santapan itu, kita mencicip pesta abadi sekaligus mencicipi pegadilan terakhir yang mendahului pesta abadi tersebut. Di dalam santapan, hakim agung sudah menentukan hukumannya. KehadiranNya sama dengan kehadiran pada saat parousia kelak.
            Makan dan minum mengandung makna lebih daripada sekadar peringatan peristiwa yang telah terjadi di masa lampau melainkan menggambarkan juga partisipasi dalam tubuh dan darah Kristus. Maka dari itu, di dalamnya terkandung makna partisipasi dalam tubuhNya. Roti dan anggur menjadi sarana kehadiran Kristus. Makan roti dan minum anggur adalah persatuan (saling berbagi) dengan Kristus surgawi. Menunjukkan adanya suatu partisipasi dari umat terhadap karya pengorbanan Kristus bagi kehidupan orang percaya melalui makan dan minum dari tubuh dan darahNya. Anggur dan roti dipandang sebagai makanan rohani karena didalamnya terkandung makna sebagai tubuh dan darah Kristus yang dimakan sebagai tanda penebusan yang Ilahi bagi umatNya. Karya penebusan pemberian Allah ini dikenang melalui kurban dalam bentuk makanan spiritual yaitu tubuh dan darah Kristus.
Perjamuan malam ini merupakan suatu bentuk perayaan mengenang penebusan yang membawa keselamatan dan kesukacitaan bagi umat yang menerima pemberian Allah ini. Pernyataan roti sebagai tubuh Kristus ini didasarkan pada perkataan Yesus sendiri yang menyebut diriNya sebagai roti dari surga dan darahNya yang tercurah yang akan dimakan dan diminum didalam Perjamuan Malam tersebut. Perjamuan ini berfungsi menjadi perantara antara persekutuan jemaat dengan Kristus.
Melalui Perjamuan yang dilakukan jemaat pada masa itu dapat ditemukan sebuah perintah Tuhan Yesus  Anamnesis[4], yang sangat di hargai oleh Paulus (Donald 1996:89). Hal ini dikarenakan Paulus berpendapat bahwa melakukan Perjamuan Kudus adalah sebuah keharusan dan kewajiban namun hal ini saja tidak cukup hanya berarti ketika jemaat melakukan Perjamuan Malam tetapi harus dengan maksud mengenang kembali karya penebusanNya dan juga memberitakan kembali kematian Kristus sampai pada pengharapan jemaat akan kedatanganNya kembali.
Pelaksanaan Perjamuan Kudus dan partisipasi jemaat didalamnya juga menunjukkan identitas dari jemaat tersebut sebagai anggota didalam tubuh Kristus dengan Kristus sebagai kepala gerejaNya. Melalui Perjamuan Kudus, didalam pengorbanan yang dilakukan oleh Kristus, terjadi rekonsiliasi hubungan antara Allah dan manusia. Orang percaya menjadi umat yang telah ditebus dan hidup didalam komunitas dengan yang Ilahi didalam Gereja. Inilah yang mendasari gereja disebut sebagai “Tubuh Kristus”. Dengan memakan Roti yang adalah lambang dari Tubuh Kristus, maka berbagai macam orang percaya yang berbeda itu menjadi satu ketika memakan Tubuh dan Darah Kristus yag dilambangkan melalui roti dan anggur tersebut.


Makna Perjamuan Kudus  

Pada umumnya orang Kristen percaya bahwa mereka diperintahkan Yesus untuk mengulangi peristiwa perjamuan ini untuk memperingatinya, "... perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!" (1 Kor. 11:24-25). Namun berbagai aliran Gereja Kristen memberikan pengertian yang berbeda-beda pula terhadap sakramen ini. Gereja Katolik Roma menekankan arti perjamuan kudus sebagai sarana keselamatan bagi umat. Gereja-gereja Protestan umumnya lebih menekankan perjamuan sebagai peringatan akan kematian dan pengorbanan Yesus bagi umat manusia. Berikut adalah penjabaran dari beberapa makna Perjamuan Kudus, yakni:
1.      Perjamuan Kudus sebagai perjamuan pengucapan syukur
Perjamuan Malam yang juga disebut Perjamuan Kudus adalah suatu pesta kemenangan, bukan perjamuan duka ataupun perjamuan orang mati, melainkan berlangsung dalam kegembiraan (Kis. 2:46). Jemaat merayakan Perjamuan Kudus dengan gembira dan dengan pengucapan syukur karena jemaat tahu bahwa Yesus - yang mati, tetapi yang telah bangkit kembali- hadir bersama-sama dengan mereka dalam perayaan mereka. Jemaat merayakan Perjamuan Kudus dengan gembira sebagai pengucapan syukur untuk kemenangan Kristus atas maut dan keselamatan yang Ia telah anugerahkan kepada semua manusia oleh kematian dan kebangkitanNya. Untuk dosa-dosa kita Kristus telah mati, dan untuk keselamatan kita Ia telah bangkit. Oleh karena itu, kita sebagai jemaat harus merayakan Perjamuan Kudus sebagai manifestasi pengucapan syukur kita kepada Allah, karena Dia telah mengasihi umat manusia sedemikian rupa sehingga memberikan Anak-Nya yang Tunggal sebagai korban penebusan dosa kita hingga kita selamat dari dosa (Yohanes 3:16).
2.      Perjamuan Kudus sebagai peringatan akan Yesus
Pada waktu Yesus dan murid-muridNya merayakan Perjamuan Malam atau Perjamuan Akhir, Ia mengambil roti dan sesudah Ia mengucap syukur atasnya, Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuhKu, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku! Demikian juga Ia mengambil cawan sesudah makan, lalu berkata: Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimaterikan oleh darahKu; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” (1 Kor. 11:24-25). Dalam hal ini, yang menjadi peringatan itu adalah peringatan akan keselamatan yang ‘dihasilkan’ Yesus oleh kematian itu dan juga atas karya-karya pembebasan Allah[5]. Dengan kata lain, Perjamuan Kudus sebagai peringatan untuk menghayati keselamatan yang Yesus kerjakan oleh kematian dan kebangkitanNya. Oleh karena penderitaan dan kematian Yesus sebagai Anak Domba Allah di kayu salib itulah yang memungkinkan umat manusia diselamatkan dari Dosa Warisan Adam (Lukas 22:19).

3.      Perjamuan Kudus sebagai pemberian Roh Kudus
Roti tetap roti, dan anggur tetap anggur. Tidak akan pernah dapat berubah menjadi daging dan darah. Namun dengan hadirnya Roh Kudus saat Perjamuan Kudus berlangsung, maka makna dari roti dan anggur itu menjadi berbeda. Dengan adanya Roh Kudus kita memperoleh persekutuan dengan Kristus dengan kematian dan kebangkitanNya yang benar-benar hadir dalam perayaan Perjamuan Kudus. Oleh karena itu, doa epiklesis dalam Perjamuan Kudus memainkan peranan penting[6].
4.      Perjamuan Kudus sebagai perjamuan persekutuan
Perjamuan Kudus adalah perjamuan persekutuan. Jemaat yang datang berkumpul bersama-sama dan merayakan Perjamuan Kudus beroleh persekutuan dengan Kristus. Persekutuan dengan Kristus bukan saja karena memakan roti yang dipecah-pecahkan sebagai symbol tubuh Yesus dan meminum anggur yang merupakan symbol darah Yesus sehingga disebut dengan persekutuan dengan tubuh dan darah Kristus atau persekutuan dengan kematian dan kebangkitan Kristus. Melainkan juga persekutuan diri kita dengan orang lain di dalam Kristus. Dalam 1 Kor. 11, Paulus mengatakan bahwa kalau anggota-anggota Jemaat dalam Perjamuan Kudus hanya memperhatikan dirinya sendiri tanpa memperhatikan diri orang lain, maka mereka mendatangkan hukuman atas diri mereka sendiri karena mereka tidak mengakui tubuh Tuhan  (1 Kor 11:29). Oleh karena itu, dengan saling memperhatikan satu sama lain di dalam Perjamuan Kudus maka akan terbebas dari diskriminasi ras, suku, bangsa, dan golongan. Perjamuan Kudus terbuka untuk siapa saja, baik untuk orang yang kaya, yang miskin, yang berkuasa, yang lemah dan sebagainya. Semua bersatu dan bersekutu di dalam Kristus.


Makna Perjamuan Kudus Menurut Luther, Calvin dan Zwingli

Pada zaman reformasi, para teolog sempat bersitegang dalam menanggapi makna Persekutuan Kudus ini. Para teolog seperti Luther, Calvin dan Zwingli memiliki pemahaman yang berbeda tentang Perjamuan kudus. Secara garis besar, ada beberapa doktrin yang berkenaan dengan perjamuan kudus, yakni:
1)      Transubstansiasi yang dicetuskan oleh gereja Roma
Ada perubahan atau transformasi, yakni roti bertransformasi menjadi tubuh Kristus secara harafiah demikian pula halnya dengan anggur bertransformasi menjadi darah Kristus. Kristus hadir secara fisik. Penekanan terletak pada: ”Inilah tubuh-Ku.”

2)      Consubtansiasi yang dicetuskan oleh Luther
Roti dan anggur tetaplah roti dan anggur tetapi hadirat Kristus itu nyata, melingkupi roti dan anggur. Jadi ketika kita menikmati roti, kita juga menikmati tubuh Kristus demikian pula ketika kita menikmati anggur, kita menikmati anggur dan darah Kristus.

3) Zwingli melihat perjamuan kudus itu sebagai suatu tanda. Perjamuan kudus itu untuk mengenang kematian Kristus dan kasih Kristus melalui tubuh-Nya dipecah-pecahkan dan darah-Nya tercurah. Penekanannya terletak pada: ”...sebagai peringatan akan Aku.”

4) Calvin menyatakan roti itu tetaplah roti dan anggur itu tetaplah anggur tetapi perjamuan kudus itu bukan semata-mata hanya mengenang Kristus. Perjamuan Kudus merupakan sarana anugerah dimana Kristus hadir secara rohani di dalam karya Roh Kudus sehingga dengan pengertian kebenaran dan iman maka Roh Kudus bekerja sedemikian rupa membawa kita lebih dekat pada Kristus dan masuk dalam hadirat Kristus bahkan lebih dekat ketika kita mendengar kebenaran Firman Tuhan.

Perbedaan teologi Luther dan Calvin dengan Zwingli mempengaruhi penafsiran mereka terhadap makna Perjamuan Kudus. Perbedaan pendapat antara Zwingli dengan Luter dan Calvin mengenai sakramen sangat terasa. Perbedaan ajaran Zwingli mengenai sakramen tidak terlalu menonjol dalam sakramen Baptisan karena hampir sama dengan yang diutarakan oleh Luther. Namun mereka berbeda pendapat dalam ajaran sakramen Perjamuan Kudus. Perbedaan itu disebabkan oleh karena karakter, sifat, dan latar belakang mereka yang berbeda. Luther adalah seorang biarawa yang bergumul dengan skolastik dari abad-abad pertengahan, sedangkan Zwingli lebih banyak dibentuk oleh humanisme, ia tidak mudah terharu dan lebih banyak bersifat rasional.
Perbedaan pendapat antara mereka tentang sakramen khususnya mengenai sakramen Perjamuan Kudus membuat mereka bertiga terpisah dan menempuh jalan mereka sendiri-sendiri. Menurut Zwingli, sakramen bukanlah sesuatu yang suci, yang oleh kuasanya dapat membebaskan hati nurani manusia dari dosa. Sakramen adalah jaminan, janji atau sumpah untuk membuktikan kerelaan dirinya untuk mendengarkan dan menaati firman Allah bukan misteri atau rahasia dan juga tidak berarti mengandung sesuatu yang suci atau sakral. Sedangkan Luther menyebut sakramen adalah sebagai meterai atau tanda perjanjian, maksudnya adalah baptisan secara kelihatan yang mengesahkan dan menjamin janji-janji Allah secara sah. Luther melalui ajarannya berpendapat bahwa tubuh dan darah Kristus tidak hadir secara jasmani menggantikan roti dan anggur yang ada melainkan tubuh dan darah Kristus hadir secara tidak kelihatan (Abineno 1990: 65). Sementara Calvin berpendapat bahwa didalam melakukan Perjamuan Kudus, Kristus benar-benar hadir didalamnya, namun bukan dalam pengertian hadir secara fisik ataupun badaniah. Kristus hadir melalui RohNya yang Kudus (Abineno 1990: 119). Namun bagi Zwingli, sakramen terutama adalah suatu tanda perjanjian yang menunjukkan bahwa semua yang menerimanya rela memperbaiki hidupnya untuk mengikut Kristus. Singkatnya, bagi Luther, sakramen adalah suatu tanda pembebasan manusia dari segala bentuk dosanya, sedangkan bagi Zwingli, sakramen adalah hidup baru di dalam Kristus. Zwingli tidak setuju dengan pendapat Luther itu karena menurutnya sakramen tidak dapat melakukan penyucian dan penebusan dosa, baginya hanya Allah saja yang dapat mengampuni dosa.
Pertemuan Dewan Kota dengan jemaat Zurich menghasilkan putusan bahwa misa harus dihapus dan digantikan dengan Perjamuan Kudus. Bagi Zwingli, Perjamuan Kudus adalah “perjamuan peringatan” yang gembira dan pengucapan syukur umum atas segala pemberian yang Kristus berikan kepada kita. Oleh karena adanya partisipasi kita di dalamnya, kita menyatakan bahwa kita tergolong pada orang-orang yang hidup dari pemberian-pemberian Kristus[7]. Bagi Zwingli, Perjamuan Kudus adalah suatu peringatan akan Kurban Kristus (didasarkan atas kesaksian Surat Ibrani 9:12; 10:10-14), roti dan anggur dalam Perjamuan Kudus hanyalah simbol dari tubuh dan darah Kristus. Dari perkataan itu ia sebenarnya tidak mengakui “prasentia realis” (kehadiran Kristus yang sesungguhnya ada dalam Perjamuan Kudus)[8]. Jadi yang terpenting dalam Perjamuan Kudus menurut Zwingli adalah bahwa sakramen bukanlah alat keselamatan dari Yesus yang dilahirkan sebagai manusia tetapi Kristus yang disalibkan ke dalam maut. Yesus sebagai manusia tidak dapat menyelamatkan kita, tetapi yang menyelamatkan kita adalah Kristus yang diserahkan ke dalam maut. Zwingli menghendaki kesederhanaan dalam Perjamuan Kudus, yakni cawan dan piringnya harus terbuat dari kayu, karena yang terpenting bukanlah cawannya melainkan maknanya. Pada saat perjamuan orang-orang percaya dan mengikut Kristus dan mereka berjanji untuk setia kepadaNya.


Penutup

                Bagi sebagian orang, ikut hadir dalam suatu perjamuan di suatu pesta mungkin adalah suatu hal yang sangat menyenangkan karena ia dapat makan makanan apa saja dan sebanyak yang ia kehendaki untuk ia makan tanpa harus membayarnya. Ia hadir, duduk sebentar, makan, kenyang, lalu pulang. Tanpa perlu menghadirkan suatu makna pula dalam perjamuan itu karena dapat dikatakan ia hanya menumpang makan. Tapi beda halnya dengan Perjamuan Kudus. Perjamuan Kudus adalah perjamuan pengucapan syukur. Kita bersyukur atas keselamatan yang telah Tuhan anugerahkan kepada kita sehingga kita dapat terbebas dari belenggu dosa. Memang tidak penting siapa saja yang hadir pada Perjamuan Kudus karena semua orang sesungguhnya boleh menghadirinya, terlebih orang yang sudah menerima Kristus sebagai Juruslamatnya, tetapi yang terpenting adalah bagaimana orang yang mengikuti perjamuan tersebut dapat memaknai Perjamuan Kudus tersebut, bagaimana kita yang ikut didalamnya dapat terlibat dalam persekutuan dengan Kristus dan bagaimana kita dapat memaknainya itulah yang menjadi tujuan utamanya.
Para teolog di zaman reformasi, seperti Luther, Calvin dan Zwingli memberi makna terhadap arti Perjamuan Kudus dari sudut pandang mereka yang berbeda. Kendati demikian, pemaknaan dari Perjamuan Kudus yang lebih banyak dipakai di gereja-gereja yang ada di Indonesia lebih menggunakan pemaknaan dari Luther dan Clavin. Luther beranggapan bahwa dalam Perjamuan Kudus itu Yesus benar-benar hadir dalam roti dan anggur­­, menurut Calvin hampir mirip dengan pemahaman Zwingli yakni dalam Perjamuan Kudus roti dan anggur hanya simbol dari daging dan darah Kristus. Sekarang, mari tilik kembali, coba kita tanya kepada diri kita pribadi, sudahkah kita memaknai Perjamuan Kudus itu dengan benar ataukah hanya sekedar ikut-ikutan saja? Jangan sampai pengorbanan yang dilakukan oleh Kristus tidak kita maknai dengan mengucap syukur dan malah tidak artinya sama sekali bagi kita.


































Daftar Pustaka




Browning, W. R. F. Kamus Alkitab. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007.
Casper, Charles. Bread of Heaven. Den Haag: Kok Pharos Publishing House, 1995.
Ch., Abineno J. L. Perjamuan Malam. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1979.
Ch., Abineno J. L. Perjamuan Malam Menurut Ajaran Para Reformator Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 1990.
Ch., Abineno J. L. Ulrich Zwingli: Hidup, Pekerjaan, dan Ajarannya. Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 1993.
Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II M-Z. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF,
1974.
Guthrie, Donald. Teologi Perjanjian Baru Jilid 3 Ekslesiologi,Eskaltologi, Etika. Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 1996.
Wellem, F. D. Kamus Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009.
World Council of Churches. Baptism, Eucharist and Ministry. Geneva, 1982.



Sumber dari internet:
http://id.wikipedia.org/wiki/Leonardo_da_Vinci diakses oleh Shandy Yoan Barus pada hari Senin, 15 Nopember 2010 pukul 14.40 WIB.






[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Leonardo_da_Vinci  diakses oleh Shandy Yoan Barus pada hari Senin, 15 Nopember 2010 pukul 14.40 WIB.

[2] W. R. F. Browning, Kamus Alkitab, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007), 347.

[3] F. D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), 405-406.
[4] World Council of Churches, Baptism, Eucharist and Ministry, (Geneva, 1982), 11.


[5] J. L. Ch. Abineno, Perjamuan Malam, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1979), 25.
[6] Epiklesis adalah doa kepada Roh Kudus agar Ia turun ke atas Jemaat yang berkumpul dan juga ke atas roti dan anggur yang dihidangkan.
[7] J. L.  Ch. Abineno, Ulrich Zwingli: Hidup, Pekerjaan, dan Ajarannya, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993), 57.
[8] ibid , 51.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar