Tampilkan postingan dengan label Tafsir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafsir. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Januari 2013

Akhir Zaman Menurut Injil Lukas: Sebuah Kekuatiran yang Meluas akan Masa Depan



Akhir Zaman Menurut Injil Lukas: Sebuah Kekuatiran yang Meluas akan Masa Depan

Pendahuluan
Siapa yang tidak takut dengan masa depannya? Tentu banyak orang yang kuatir jika diperhadapkan dengan masa depan yang suram. Banyak orang berusaha menggapai ilmu setinggi mungkin dengan melanjutkan pendidikan hingga tingkat tertinggi dengan alasan demi masa depan yang lebih baik. Bagi sebagaian orang, masa depan yang baik adalah sebuah kesuksesan. Orang yang tidak sukses atau tidak melanjutkan pendidikannya acap kali disebut sebagai orang yang tidak memiliki masa depan. Dengan kata lain, banyak orang di dunia ini yang kuatir akan masa depannya masing-masing sehingga mereka berusaha semampu mereka untuk memperoleh masa depan yang lebih baik itu. Namun bagaimana jadinya jika kita diperhadapkan dengan kehancuran masa depan bersama? Bukan hanya bagi seseorang tertentu saja, melainkan terhadap satu bumi? Fenomena ini juga sering disebut sebagai suatu peristiwa akhir zaman atau kiamat.
Rumor mengenai kiamat kian menakutkan mana kala ramalan suku Maya mengenai kiamat tersebut semakin mencuat ke permukaan. Suku Maya adalah kelompok suku yang tinggal di semenanjung YucatanAmerika Tengah yang berbatasan dengan Samudera Pasifik di sebelah barat, dan Laut Karibia di sebelah timur. Suku yang pada zaman batu mencapai kejayaan di bidang teknologinya (250 M hingga 925 M), menghasilkan bentuk karya dan peradaban unik seperti bangunan (Chichen Itza), pertanian (kanal drainase), tanaman jagung dan latex, serta pembuatan sumur yang disebut "cenotes". Cara mereka berkomunikasi dan mendokumentasikan tulisan yang menggunakan gambar dan simbol (disebut glyph). Salah satu contohnya adalah kalender suku Maya yang mengidentifikasi akan adanya bencana kiamat yang akan melanda dunia ini. (http://id.wikipedia.org/wiki/Bangsa_Maya) Berdasarkan kalender suku maya, disebutkan bahwa akan terjadi apocalypse (kiamat) pada tanggal 21 Desember 2012. Bila melihat hitungan mundur dari tanggal tersebut, maka hal tersebut akan beberapa hari lagi. Namun bagaimana hal ini ditanggapi dan dianalisis dari sudut pandang agama Kristen (khususnya menurut Injil Lukas)? Apakah kiamat memang akan terjadi beberapa hari lagi? Atau kiamat masih belum akan terjadi? Apakah makna Akhir Zaman yang dimaksudkan Lukas adalah sebuah kehancuran dunia seperti yang digambarkan oleh suku Maya? Atau berupa penghakiman yang dilakukan oleh Allah yang sering disebut dengan kedatangan Yesus kedua kalinya? Sebelum mengklaim kebenarannya, ada baiknya jika kita memahami apa arti akhir zaman itu sebenarnya. Oleh karena itu, di dalam paper ini akan dibahas mengenai makna Akhir Zaman secara umum dan Akhir Zaman menurut Injil Lukas.
                                   
Akhir Zaman Secara Umum           
Ajaran Alkitab tentang eskatologi (ajaran tentang Akhir Zaman) tidak hanya mempedulikan nasib orang secara perseorangan, tapi juga sejarah manusia. (Sosipater 2010, 160-161) Menurut Alkitab, Allah tidak hanya menyatakan diri-Nya melalui orang-orang yang mendapat ilham, tapi juga dalam dan melalui peristiwa-peristiwa yang membebaskan umat-Nya, dan peristiwa yang terpenting dari semuanya ialah kedatangan Anak-Nya Yesus Kristus. Selanjutnya, isi dari penyataan ini tidak terbatas pada kebenaran-kebenaran mengenai sifat dan tujuan Allah, tapi mencakup juga tindakan-tindakan pelepasan umat-Nya dan firman yang diilhamkan yang menafsirkan makna tindakan-tindakan tersebut. Allah adalah Tuhan atas segala peristiwa sejarah, maka penggenapan dari karya pelepasan oleh Allah mencakup juga pelepasan manusia dari sejarah, artinya, perubahan tata tertib dunia ini menjadi suatu dunia yang baru.
Kata Eskatologi berasal dari bahasa Yunani : eskhatos yang berarti akhir zaman, yang hampir sama dengan bahasa Inggris "escalate" (terangkat ) dan digunakan dalam istilah teologi untuk menunjuk masa"pengangkatan orang kudus" pada akhir zaman. Lima kali dalam Injil Yohanes, Yesus menggunakan kata ini dalam hubungan dengan kebangkitan orang-orang benar yang telah meninggal: "... Aku akan membangkitkannya pada akhir zaman" (6:39,40,44,54; 11:24). Dalam konteks ini, "eschatos" menunjuk pada saat KedatanganNya Kedua kali ke dunia. "... pada waktu bunyi nafiri yang terakhir ... orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tak dapat binasa dan kita semua akan diubah" (1 Kor 15:52). "Maka Tuhan sendiri akan turun dari Sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit" (1 Tes 4:16). Dalam konteks yang lebih luas, berarti "hari-hari terakhir" dimulai pada saat Pentakosta pada tahun 33 Masehi. Banyak orang yakin bahwa "hari-hari terakhir" akan berakhir saat Yesus datang kembali ke dunia. Jadi eskatologi adalah ilmu teologi yang berbicara tentang hal-hal yang bertalian dengan akhir zaman. Dengan Eskatologi ini terkait beberapa istilah dan pengertian yang lain seperti : Kedatangan Kristus yang kedua kali, kebangkitan daging, penghakiman dan kerajaan seribu tahun dan juga tanda-tanda atau hal-hal yang mendahului akhir zaman itu. Istilah ini disebut juga dalam berbagai bentuk, misalnya : Hari Tuhan (Kis. 2:20; II Petr.3:10 dan I Tes.5:2), Hari Kristus (Flp. 1:10), Hari Terakhir (Mat. 7:22), Akhir Zaman (Yoh. 6:39). (Guthrie 1996, 154-156) Umumnya, jika kita berbicara tentang akhir zaman maka biasanya pemikiran tertuju kepada nasib orang perorang yang ditentukan pada penghakiman yang diadakan pada saat itu. Tetapi sebenarnya Alkitab sendiri lebih cenderung membicarakan Penggenapan Kerajaan Allah yang mencakup bumi yang diperbaharui. Yesaya menyebutnya : langit baru dan bumi baru (Yes. 65:17; 66:22).
Selain itu, ada juga kecenderungan untuk menaruh perhatian terhadap suatu masa yang akan datang kelak. Pada saat itu akan banyak gejala-gejala alam yang dahsyat menghancurkan bumi ini seperti gempa bumi dan banjir, kelaparan dan wabah, perang dan kekerasan atau saat dimana orang jahat akan dihukum dan orang saleh akan mendapatkan damai sejahtera. (White 1994, 8-17) Tetapi dalam Alkitab diperlihatkan adanya dua tahapan atau jenis akhir zaman, yakni yang pertama adalah yang dinubuatkan dalam Perjanjian Lama, yaitu tentang kedatangan seorang Mesias dari keturunan Daud (Yes. 9:6-7); 11:1 dst.; Yer. 23:5-6), Anak Manusia yang turun dari Sorga (Dan. 7:13-14), Hamba yang menderita (Yes. 53); yang kedua yakni sebagai masa penggenapan makna kedatangannya di dunia ini. Dengan kata lain, akhir zaman itu bisa juga dikatakan dimulai pada kenaikan Yesus sampai pada kedatanganNya yang kedua dan makna akhir zaman itu dapat dilihat sebagai penyempurnaan dari apa yang dilakukan oleh Mesias yang datang itu selama hidupnya di dunia ini (Luk. 4:18-21; 10:23-24; Mat. 11:4-5; 13:16-17). Kitab Ibrani menekankan bahwa zaman akhir itu sudah disini sekarang (Ibrani 1:1-2), yaitu dengan hadirnya Kristus pewaris Kerajaan Allah. (Guthrie 1996, 154)

Akhir Zaman Menurut Injil Lukas
Injil Lukas adalah salah satu dari empat tulisan yang mengawali Perjanjian Baru. Injil Lukas digolongkan sebagai Injil Sinoptik bersama dengan Injil Matius danMarkus. Isi pemberitaannya mengenai kehidupan dan pelayanan Yesus(Hakh 2010, 268) Di kalangan para ahli Perjanjian Baru, Lukas diyakini sebagai penulis Injil ini. Penyusunan Injil Lukas menggunakan bahan-bahan tulisan yang kurang lebih sama dengan yang digunakan dalam Injil Matius dan Injil Markus tetapi hasil susunannya tidak persis sama dengan kedua Injil tersebut. (Wahono 1986, 376)
Salah satu pokok pemberitaan Yesus yang diungkapkan oleh Lukas adalah mengenai Kerajaan Allah (Lukas 4:43; 8:1; 9:11). Ungkapan Basileia tou Theou (Kerajaan Allah) yang dipakai dalam Injil Lukas merunjuk kepada tindakan Allah dalam sejarah manusia untuk mewujudkan Kerajaan- Nya melalui pelayanan Yesus. Sekalipun Lukas menggambarkan Yesus yang sangat menekankan kehadiran pemerintah Allah dalam dunia pada masa kini, namun bukan berarti Yesus mengabaikan kedatangan Kerajaan Allah yang di masa mendatang. Pemenuhan Kerajaan Allah yang penuh kemuliaan di masa depan tetap dinantikan. (Hakh 2007, 228-229)
Lukas menggambarkan konteks jemaat pada saat itu dengan menaruh perhatian terhadap orang yang menderita, miskin, dan lain sebagainya. (Duyverman 1990, 64) Jemaat yang digambarkan dalam Injil Lukas adalah jemaat yang tengah mengalami rupa-rupa persoalan. Pertama, komunitas Lukas sedang mengalami krisis pengharapan akan kedatangan Tuhan (parousia). Di antara mereka ada yang tetap bertekun dalan pengharapan kedatangan Tuhan sementara yang lain sudah mulai lesu imannya dan terus mempertanyakan kapan hari kedatangan Tuhan itu tiba (Lukas  17: 8). Injil Lukas sendiri menegaskan bahwa Hari Tuhan pasti akan datang (Lukas 21: 8,9 b) asalkan Injil telah diberitakan ke seluruh dunia.  Dengan demikian, yang menjadi fokus seharusnya bukan pada perhitungan kedatangan Hari Tuhan melainkan pada pemberitaan Injil. Persoalan kedua adalah banyaknya orang kaya yang sudah menjadi Kristen. Orang-orang kaya ini kemudian menimbulkan masalah di dalam jemaat. Mereka memiliki karakter yang egois dan tamak serta mengabaikan kondisi orang miskin. Karena ketamakan ini, mereka berada pada posisi yang berbahaya dan mereka dapat dengan mudah jatuh dari imannya. Persoalan ketiga adalah mengenai hubungan gereja dan negara. Hubungan keduanya digambarkan oleh Injil Lukas tidak saling bermusuhan atau terlibat dalam konflik. (Hakh 2010, 291-294) 
Mengenai Akhir Zaman, di dalam Markus dan Matius disebutkan "penghancuran tempat suci" adalah sebuah istilah yang cenderung digunakan untuk menyatakan peristiwa eskatologis, akan tetapi dalam Lukas, istilah "Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara" yang menjadi pernyataan mengenai peristiwa eskatoligis tersebut. Hal ini dapat kita temui pada Lukas 21:20, " Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah, bahwa keruntuhannya sudah dekat ". Terkait dengan kehancuran Yerusalem ini, sepertinya Injil Lukas juga berangkat dari konteks Injil Markus di atas (Lukas adalah interpertasi dari Injil Matius dan Markus). Injil Lukas lebih menekankan masalah hancurnya Yerusalem oleh para penguasa-penguasa, yakni melalui peperangan yang terjadi. Akan tetapi, kitab ini sedikit berbeda dengan Markus. Jika di dalam Markus, diperlihatkan bahwa penulisan kitab Injil Markus adalah pada saat menjelang atau sedang berada pada kehancuran Yerusalem, sehingga lebih menekankan “kekinian” penderitaan itu yang berpengaruh pada eskatologi, Lukas diperkirakan dicatat pada masa usai kehancuran tersebut, yaitu setelah 70 M. Oleh karena itu, Injil Lukas memberikan kepastian siapa yang akan menghancuran Yerusalem, termasuk Bait Allah tersebut, yakni para penguasa-penguasa atau tentara-tentara, dalam hal ini  Kaisar Nero. (Ladd 1974, 197-198)
Oleh karena konteks penulisan tersebut, eskatologi Lukas tentang kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya tidak terlalu ditekankan. Hal ini membuat para penafsir kewalahan dalam memaknai eskatologi yang ada dalam Injil Lukas. Akan tetapi, ditemukan usaha-usaha dari para penafsir, yakni Hans Conzelmann yang menyatakan bahwa Lukas kembali mengolah isu-isu tentang datangnya Yesus untuk yang kedua kalinya atau parousia (sebagaimana Injil Markus menceritakan) masih terlalu jauh ke depan. Akan tetapi, untuk menanggapi hal ini, Stephen G. Wilson mengatakan bahwa parousia itu ditunda dan akan segera tiba, oleh Stephen G. Wilson (Hakh 2007, 225-227). Terkait dengan itu, Wilson kemudian menjelaskan pendapatnya tentang eskatologi dalam Injil Lukas sebagai berikut:


1.      Tertundanya Parousia
Dimulai dari pengalaman Yohanes pembaptis dalam memaknai Kerajaan Allah dan membandingkannya dengan kedua kitab lainnya, yakni Matius dan Markus. Menurut Lukas, Yohanes tidak pernah menyatakan sudah atau sedang dekatnya kerajaan itu, tetapi lebih menekan pertobatan dan baptisan. Oleh karena itu, Lukas telah mengubah prediksi mengenai parousia itu dengan ditinggikan-Nya, Ia, sebagai Anak Manusia yang duduk di sebelah takhta Allah, setelah kematian-Nya bukan lagi dengan kedatangan-Nya untuk kedua kalinya. Dalam hal ini, Lukas bermaksud memperkuat iman jemaat dan mengutus mereka ke luar untuk mewartakannya. Lukas lebih memaknai Kerajaan Allah itu adalah sebuah kekinian, kerajaan yang sedang berlangsung pada saat Yesus hadir dan akan senantiasa hadir di dalam hidup manusia. Oleh karena itu, terkait dengan parousia tersebut, Lukas seolah-olah menyatakan bahwa itu ditunda.

2.      Parousia Akan Tiba
Kesegeraan tibanya parousia dalam Injil Lukas menekankan untuk senantiasa berjaga-jaga dari penyesat dan senantiasa hidup layaknya orang yang sedang menantikan tuannya. Lukas, tetap memberikan pengharapan kepada seluruh umat tentang eskatologi, hanya ia sedikit mengubah persepsi eskatologi ini (dari Injil Markus), yakni melalui penjelasan mengenai parousia yang akan segera tiba. Namun di dalam hidup umat, harus senantiasa berjaga-jaga, supaya ketika Ia datang, Ia menjumpai kita sebagai hamba yang setia.

Penutup
Akhir Zaman memang sangat ditakuti oleh banyak orang. Entah memang karena mereka kuatir dan takut akan kedatangan Tuhan kedua kalinya atau mereka hanya takut kiamat karena takut kekayaan mereka lenyap ditelan bumi? Tentu hanya mereka masing-masing yang mengetahuinya. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa rumor mengenai Akhir Zaman menurut suku Maya sangat mempengaruhi pemahaman kebanyakan orang mengenai kedatangan Tuhan kedua kalinya, termasuk bagi orang Kristen itu sendiri. Padahal Akhir Zaman yang dimaksudkan oleh suku Maya tersebut merupakan New Age (Zaman Baru). Bagi suku Maya, New Age merupakan suatu bentuk kiamat dan akhir zaman mereka karena semakin berkembangnya teknologi yang sama sekali tidak mereka pahami. Namun bagi sebagian besar kita yang bukan merupakan suku Maya yang tidak mengenal peradaban, suatu kemajuan teknologi bukanlah suatu akhir dari zaman ini. melainkan sesuatu yang dapat dibanggakan. Sayangnya, kekuatiran suku Maya ini semakin dibesar-besarkan bahkan dijadikan sebagai ladang usaha oleh sebagian oknum, misalnya membuat film tentang Akhir Zaman. Oleh karena itu, pemahaman teologis dan spiritualitas manusia semakin terkikis dan terpengaruhi oleh suku Maya dan film-film tentang Akhir Zaman itu yang tampaknya cukup berbeda dengan apa yang telah kita pahami melalui Injil Lukas tersebut. Sehingga Akhir Zaman ini pada akhirnya menjadi suatu kekuatiran yang meluas akan masa depan karena tidak ada yang tahu mengenai kebenarannya. Alkitab, khususnya Perjanjian Baru, memandang eskatalogi dengan perspektif yang berbeda dengan apa yang dipahami oleh kaum millenialis. Menurut Perjanjian Baru, khususnya Injil Yohanes dan teks-teks Paulus, Kerajaan Allah hadir dalam kekinian melalui peristiwa inkarnasi Kristus. Oleh karena itu, dengan adanya pemaparan diatas, setidaknya kita dapat terbantu untuk memahami dan belajar sedikit mengenai peristiwa Akhir Zaman tersebut.
Kendati demikian, tidak semua orang sependapat bahwa doktrin akhir zaman penting untuk dipelajari. Ada yang menganggap bahwa doktrin ini sungguh penting, tetapi ada juga yang menganggapnya sekadar doktrin tambahan. Mereka ini mengatakan bahwa apa dan bagaimanapun pandangan kita tentang doktrin ini tidak akan mempengaruhi, mempercepat atau memperlambat kedatangan Kristus. Karena itu, lebih baik membicarakan hal-hal lain yang jauh lebih penting di dunia ini (untuk sekarang) sebab kita tidak akan pernah tahu mengenai hari esok.
Ada beberapa alasan mengapa kita tampaknya perlu untuk mempelajari doktrin ini:
a. Alkitab mengajarkan bahwa sejarah tidak akan berjalan dengan sendirinya begitu saja, tetapi ada dalam pimpinan dan kontrol Allah. Sejarah akan menuju pada penggenapannya yang sempurna. Hal ini akan terjadi pada waktu kedatangan Kristus yang kedua kali, yaitu pada akhir zaman.
b. Kita orang-orang percaya yang hidup di dunia ini tidak boleh terlalu disibukkan oleh dunia ini sehingga kita lupa bahwa kita akan menerima, "Suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar, dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di Sorga.""(1Pet.1: 4). Karena itu, kita harus berusaha menghubungkan apa yang kita lakukan sekarang dengan doktrin ini. Sebagaimana tokoh reformasi, Martin Luther pernah berkata, "Aku hanya punya dua hari, yaitu hari ini dan hari itu. Saya mau hidup hari ini dalam terang hari itu (hari kedatangan Kristus yang kedua)."
c. Sesungguhnya segala kejahatan dan penderitaan yang terjadi di dunia ini hanya akan berakhir pada akhir zaman. Jadi, pengharapan dan kerinduan kita akan dunia yang penuh bahagia dan ideal akan dipenuhi pada akhir zaman. Itulah sebabnya kita tidak setuju pada kelompok tertentu yang memiliki pandangan yang terlalu optimis akan keadaan dunia ini. Kenyataannya, dunia semakin rusak, kejahatan semakin merajalela. Hal tersebut sebenarnya sudah ditegaskan Kitab Suci. Sebagaimana tertulis, "Sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat." (2Tim.3: 13)
Menunggu parousia bukan berarti harus pasrah, melainkan dapat tetap melanjutkan misi Allah di dunia sembari menunggu kedatanganNya yang kedua kali. Kiranya melalui paper sederhana ini, kita dapat lebih bijak dalam menanggapi berita mengenai Akhir Zaman. Percayalah kepada Injil dan firman Tuhan yang kekal abadi, bukan kepada nubuatan manusia yang hanya bersifat sementara bahkan mungkin menyesatkan.












Daftar Pustaka

Duyverman, M. E. Pembimbing ke dalam Perjanjian Baru. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1990.
Guthrie, Donald. Teologi Perjanjian Baru 3: Eklesiologi, Eskatologi, Etika. Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 1996.
Hakh, Samuel Benyamin. Pemberitaan tentang Yesus menurut Injil-injil Sinoptik. Bandung:
            Jurnal Info Media, 2007.
Hakh, Samuel Benyamin. Perjanjian Baru: Sejarah, Pengantar dan Pokok-pokok Teologisnya.
            Bandung: Bina Media Informasi, 2010.
Sosipater, Karel. Etika Perjanjian Baru. Jakarta: Suara Harapan Bangsa. 2010.
Wahono, S. Wismoady. Di sini Kutemukan. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1986.
White, Ellen G. Peristiwa-peristiwa Akhir Zaman: Persiapan Menghadapi Krisis Akhir Dunia.
Bandung: IKAPI, 1994.

Sumber dari Internet:



Tafsir Kitab Daniel 7: 9-10


Tafsir Kitab Daniel 7: 9-10

            Kitab Daniel ditulis oleh Daniel sendiri. Nama Daniel sendiri memiliki arti "Allah adalah Hakim(ku)”. Isi kitab Daniel adalah paduan riwayat hidup, sejarah, dan nubuat. Bentuk tulisannya ialah sastra apokalips, yang artinya bahwa berita nubuatnya menyingkapkan penyataan Allah melalui berbagai penglihatan, mimpi, dan lambang untuk memberikan semangat kepada umat Allah pada masa krisis dalam sejarah, dan untuk membayangkan pengharapan Israel mengenai kemenangan akhir kerajaan Allah dan kebenarannya di bumi. Saya sependapat dengan tafsiran yang ada di buku World Biblical Commentary yang menyatakan Daniel sebagai seorang pelihat, di dalam Daniel pasalnya yang ke 7 ini melihat kedaulatan Allah atas bangsa-bangsa (God’s control ) dan kemenangan terakhir kerajaanNya di bumi[1]. Penglihatannya mengenai empat kerajaan dunia berturut-turut yang dihakimi oleh "Yang Lanjut Usianya" ini merupakan penglihatannya yang pertama. Namun pada Daniel 7: 9-10 ini Daniel menekankan kedaulatan Allah yang digambarkan sebagai “Yang Lanjut Usianya” atas manusia dan bangsa-bangsa.
Saat membaca perikop ini, sosok yang muncul di benak saya adalah gambaran dari sosok Zeus bukan Allah, karena saya sendiri belum pernah melihat Allah. Seperti yang kita ketahui dari mitologi Yunani, kekuasaan Zeus yang lebih tinggi dibanding dengan dewa lainnya memampukannya untuk membelah langit dengan petir yang dimilikinya sebagai kekuatannya. Namun saya meyakini bahwa sosok Allah yang saya kenal dan imani jauh lebih besar, berkuasa, bijaksana dan lebih berdaulat dari pada sosok “Yang Lanjut Usianya” yang diuraikan Daniel atau pun sosok Zeus yang saya tafsirkan dari kata “Yang Lanjut Usianya” ini. Kata "Yang Lanjut Usianya" adalah cara lain untuk mengakui Allah sebagai hakim segenap bumi yang bijaksana. Biasanya, di dalam beberapa cerita atau kisah, sosok yang lebih tua selalu digambarkan sebagai sosok yang bijaksana karena sudah memiliki banyak pengalaman serta berpengetahuan sehingga memampukannya menjadi seseorang yang bijaksana. Apalagi sosok tua yang dilukiskan dengan jubah dan rambut putih menunjukkan kekudusanNya dan keagunganNya. Selain itu kedudukan seperti yang digambarkan dalam Daniel 7:9 dengan bertahtakan kursi dari nyala api yang berkobar-kobar bahkan sungai api yang timbul dan mengalir di hadapanNya dengan seribu kali berlaksa-laksa melayaniNya, membuktikan bahwa Ia memang memiliki kedudukan, kekuasaan dan keadilan yang menyala-nyala seperti kobar api serta disegani oleh banyak bangsa yang melayaniNya. Segala bangsa, suku bangsa, dan bahasa akan mengabdi kepadaNya. KekuasaanNya kekal, tidak akan lenyap, dan kerajaan-Nya tidak akan musnah. Oleh karena itu, kata "Yang Lanjut Usianya" yang dimaksudkan dalam teks tersebut merujuk kepada Allah. Sama halnya dengan Yesaya 52:13-53:1-12 yang ditafsirkan sebagai sosok Yesus Kristus penyelamat manusia yang rela mengorbankan diriNya demi kebaikan manusia, sosok yang diceritakan di dalam Daniel 7:9-10 ini dapat ditafsirkan sebagai sosok Allah yang bijaksana dan berkuasa atas segala bangsa.
Sebelum ayat 9 dan 10, Daniel menyebutkan empat binatang (Daniel 7) yang menggambarkan bangsa-bangsa kafir yang akan menentang Yang Mahatinggi/ “Yang Lanjut Usianya”. Hal tersebut merupakan suatu gambaran tentang ancaman dan bahaya yang besar bagi umat manusia. Ancaman itu sulit dikalahkan karena memiliki kekuatan yang dahsyat. Namun jika kita memahami bahwa kekuasaan Allah adalah seperti yang digambarkan oleh Daniel berdasarkan penglihatannya tersebut, maka seharusnya kita tentu tidak akan perlu terlalu mengkhawatirkan berbagai ancaman yang akan datang kepada kita lagi. Sekarang ini ada banyak bahaya yang terasa begitu dekat dan kuat mengancam hidup kita. Mulai dari kasus korupsi yang semakin hari semakin “kelewatan” hingga berbagai kasus bom seperti bom bunuh diri, bom buku, bom di gereja bahkan teror-teror lainnya yang mengatasnamakan Tuhan. Tetapi kita tidak perlu cemas karena ada yang lebih kuat yang kita yakini dan percayai daripada ancaman itu, yang kekuatan dan kekuasaan-Nya melebihi semuanya, yaitu Allah kita.



[1] John E. Goldingay, World Biblical Commentary: Daniel, (United States of America: Word, 1989), 188.

KRITIK TEKS dan KRITIK HISTORIS


KRITIK TEKS dan KRITIK HISTORIS
Pendahuluan
            Hermeneutika merupakan kata yang tidak asing bagi mahasiswa teologi, mengapa kata hermeneutika tidak asing bagi mahasiswa teologi? Karena hermeneutika merupakan salah satu cabang disiplin ilmu yaitu Biblika. Di dalam bidang biblika ini yang menjadi objek pekerjaan adalah Alkitab. Sebagai mahasiswa teologi, alkitab tidak hanya kita baca, tetapi juga kita tafsir atau hermeneutika.
            Hermeneutika tidak hanya satu jenis, tetapi ada berbagai macam jenis hermeneutika. Pada hari ini, kita akan membahas dua jenis hermeneutika, yakni kritik Teks dan kritik sejarah, Kritik teks lebih condong mengkritisi teks tersebut, seperti kosakata, gaya bahasa, dan konteks sastra pada masa itu. Sedangkan kritik sejarah lebih condong mengkritisi sejarah nya, seperti sejarah penulisannya atau seberapa tua kah umur teks tersesbut. Hal-hal ini nantinya akan di jabarkan oleh kelompok secara lebih mendalam dan tanjam.

Kritik Teks
Ketika mempelajari teks Alkitab, seringkali para penafsir menemukan adanya kata-kata yang berbeda dari berbagai terjemahan bacaan Alkitab yang bervarian, padahal sebenarnya untuk menjelaskan hal yang sama. Ini dapat diperhatikan ketika seseorang membaca bagian yang sama dalam terjemahan yang berbeda. Varian dari berbagai kata-kata itu dapat kita temukan dari berbagai macam bentuk terjemahan Alkitab, seperti RSV (Revisi dari Alkitab *American Standard Version berbahasa Inggris yang diterbitkan tahun 1952 di AS), NEB (terjemahan oleh ahli-ahli Inggris pada tahun 1970), JB (The Jerusalem Bible), NIV (The New International Version (NIV), dan NAB (The New American Bible). Misal salah satu penafsir menerjemahkan ke dalam satu bahasa, jika terdapat salah satu kata yang perlu mendapat keterangan lebih lanjut, biasanya si penafsir menambahkan  yang ditandai oleh catatan kaki. Catatan kaki ini menunjukkan bahwa bahan tambahan tersebut tidak muncul sebelumnya dalam bahasa yang diterjemahkan olehnya, tetapi telah ditambahkan oleh si penerjemah sendiri. Hal demikian mungkin dirasa sulit oleh penerjemah selanjutnya yang harus bertanya: kata apa yang merupakan tambahan dari teks ini? Mana yang merupakan bacaan yang asli? Oleh karena itu, mengetahui bagaimana bacaan aslinya sangat penting bagi si penafsir.
 Terdapat ribuan salinan dari tulisan-tulisan Alkitab. Tentunya tulisan ini telah diawetkan dari zaman kuno. Pada awal abad ketiga SM, Perjanjian Lama mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa lain, termasuk Syria dan Latin. Begitu juga dengan Perjanjian Baru, mulai diterjemahkan pertama ke Syria, kemudian ke dalam bahasa Latin. Seringkali naskah terjemahan ini berbeda secara signifikan dari satu sama lain. Maka dari itu, sekarang kita paham mengapa terdapat variasi kata-kata dalam berbagai terjemahan, dari suatu bagian Alkitab dapat terjadi. Bahwa tulisan-tulisan kuno tersebut mengalami penyalinan, pengawetan, penerjemahan dan adanya pengutipan. Perbedaan yang ada antara terjemahan awal dengan naskah aslinya , mungkin diakibatkan juga karena adanya tradisi-tradisi tekstual yang berbeda atau versi yang berbeda. Penyalin cenderung  menyelaraskan bacaan. Dan kritik tekstual  memperhitungkan hal-hal seperti gaya, kosakata, dan konteks sastra.
Dengan membiasakan diri dengan apa yang terjadi ketika teks-teks kuno yang disalin, dan disebar, kritikus tekstual sebenarnya berfungsi mendeteksi jenis-jenis perubahan yang terjadi. Mereka juga memberikan alasan mengapa perubahan tersebut terjadi. Salah satu alasan penyebab perubahan teks misalnya dikarenakan penyalin yang cenderung ekspansionis daripada reduksionis.
Variasi teks yang berbeda juga sangat mungkin terjadi oleh karena ketidaksengajaan, misalnya dalam proses penyalinan. Penyalin dapat saja salah mendengar atau salah membaca teks. Selalu ada kemungkinan kesalahan itu dapat terjadi. Perubahan dalam kalimat di teks Alkitab bisa juga terjadi karena unsur  kesengajaan. Sangat mungkin jika seorang penyalin merasa terdorong untuk memperbaiki ejaan atau tata bahasa dari naskah yang disalin, terlepas apakah koreksi itu memang benar atau salah. Ini mungkin dilakukan oleh si penyalin dengan maksud untuk hasil yang lebih koheren atau yang lebih logis. Ahli-ahli Taurat juga mengubah teks-teks secara disengaja untuk alasan teologis atau doctrinal. Jika teks yang disalin itu berisi pernyataan yang kurang disetujui oleh mereka, kadang-kadang diubah atau diperluas untuk dibawa ke posisi yang lebih ortodoks.  Setidaknya terdapat delapan belas kasus di mana mereka telah mengubah teks untuk alasan teologis. Kritikus sendiri menemukan bahwa Ahli-ahli Taurat lebih cenderung melakukan penambahan kata pada teks dibanding penghapusan.
Pertanyaan-pertanyaan yang dapat muncul ketika si penafsir mendapatkan bacaan yang bervarian adalah: (1) Bagaimana tradisi mempengaruhi teks tersebut, (2) Apakah tradisi itu nyata ataukah hanya merupakan pemaknaan. Pertanyaan tersebut dapat dilalui dengan cara melihat kronologi teks. Maka dari itu kritik teks menuntut wawasan yang kreatif dalam banyak hal. Secara ringkas kritik teks memiliki dua tujuan, yaitu: (a) untuk menentukan proses dimana teks telah mengalami perubahan dalam berbagai bentuk varian  (b) untuk menentukan bentuk terbaik dari kata-kata teks yang nantinya pembaca dapat lebih memahaminya.

Kritik Historis
            Kritik historis atau kritik sejarah dari sebuah dokumen didasarkan pada sebuah asumsi bahwa sebuah teks historis paling tidak memiliki dua alasan berhubungan dengan sejarah sebagaimana memiliki sejarahnya sendiri. Untuk alasan ini, kita dapat membedakan antara sejarah di dalam teks dan sejarah dari teks. Pernyataan pada zaman dahulu mengambil kepada teks narasi itu sendiri atau menceritakan kembali tentang sejarah, apakah orang, kejadian-kejadian, kondisi sosial, atau pemikiran utama di dalam cerita. Di dalam pemahaman ini, sebuah teks mungkin membantu sebagai sebuah jendela yang menembus, kita dapat mengintip ke dalam sebuah periode sejarah. Dari sebuah pembacaan kritik, apakah sebuah teks berkata kita dapat membuat konklusi tentang politik, sosial, atau kondisi agama pada periode itu.
            Pernyataan selanjutnya mengambil sesuatu yang berbeda, oleh karena itu pernyataan kedua ini tidak menekankan dengan apa yang teks itu sendiri katakan atau gambarkan-yang cerita itu katakan- tetapi dengan cerita teks atau seorang penulis menyebutnya dengan laju teks- sejarah milik teks itu sendiri: bagaimana, mengapa, kapan, dimana, dan di dalam keadaan seperti apa teks itu disusun; oleh siapa dan untuk siapa teks itu ditulis, disusun, diedit, diproduksi, dan dipelihara; mengapa mengapa teks itu diproduksi dan macam-macam pengaruh yang mempengaruhi keasliannya, pembentukan, perkembangan, pemeliharaan, dan pemindahan.
            Kritik historis kepada penulisan Alkitab berdasarkan asumsi yang serupa digunakan di dalam mengerjakan dengan teks kuno lainnya. Kritik alkitab ditekankan dengan kedua situasi yang menggambarkan di dalam teks dan situasi yang diberikan ke dalam teks. Pertama, dengan jelas dan lebih relevan ketika Alkitab ditekankan langsung dengan keadaan sejarah, seperti Kejadian, kemudian 2 Raja-Raja, 1 dan 2 Chronicles, Ezra, Nehemiah, Injil, dan Kisah Para Rasul. Kemudian kitab-kitab yang non-sejarah seperti, Amsal dan Mazmur, situasi kebudayaan dan kondisi digambarkan di dalam teks. Bagi semua materi Alkitab, sejarah dan kondisi kebudayaan merupakan sudut pandang yang menarik dan bertujuan membuat mengerti.
            Dua aspek dari kritik sejarah atau kritik historis digunakan di dalam gaya penulisan alkitab oleh Yahudi Kuno dan sudut pandang Kristiani. penafsir Yahudi mencoba menandai macam-macam fakta penulis kitab Perjanjian Lama dan mendebatkan isu seperti mencari tanggal kematian Musa di dalam kitab Ulangan 34. Penafsir Kristen, Julius Africanus, menghasilkan sebuah sejarah dunia dan ensiklopedia dan menganalisa beberapa teks Alkitab dengan hormat dan dapat dipercaya. Penafsir Pagan, Celsus (abad kedua A.D) dan Porphyry (303) menulis bebebrapa jilid yang mana mereka menunjukan kedua dimensi sejarah. Mereka tidak hanya meragukan apa yang telah dilaporkan di beberapa bukti-bukti teks tetapi juga meragukan apa yang diajarkan tentang beberapa teks.
            Sejak perkembangan kesadaran historis modern dan metode-metodenya, aspek-aspek historis dari materi-materi dalam Alkitab mendapat perhatian penting dalam penafsiran dan menjadi sesuatu yang tidak dapat diabaikan. Untuk itu, kita harus menjawab: bagaimana tafsiran menggunakan dan megambil keuntungan dari kritik-kritik historis? Apa saja peralatan yang digunakan untuk memfasilitasi usaha ini?
            Pertama-tama kita harus menyepakati mengenai sejarah dalam teks atau situasi yang digambarkan oleh teks. Akan tetapi, ada sumber lain yang seringkali dapat menghapus situasi yang tergambar di dalam teks itu sendiri ialah literatur perbandingan yang non-biblikal. Tulisan-tulisan zaman purbakala lainnya dapat merefleksikan pandangan yang sama, berasal dari kira-kira periode yang sama, mendiskusikan topik yang sama, atau menyajikan latar belakang informasi yang bernilai. Pentingnya referensi-referensi parallel ini telah diakui selama berabad-abad, tetapi mereka baru diterima sebagai sebuah keunggulan yang besar sejak awal abad ke-20, sering oleh ketetarikan para sarjana dalam mempelajari sejarah tradisi keagamaan kuno antara Yudaism dan Kekristenan awal. “Sejarah keagamaan” ini membongkar dan mengumpulkan berbagai materi dari dunia kuno yang telah membuka dan memberikan masukan yang baru pada penulisan Alkitab. Seperti contoh, dengan membaca Kisah Penciptaan dalam Kejadian 1-3, di samping Kisah Penciptaan lain dari dunia barat kuno, kita dapat mencatat persamaan sekaligus juga perbedaan dari keduanya, dan mengerti teks Alkitab dengan lebih baik. Penemuan arkeologis telah menggali ratusan surat dan dokumen-dokumen biasa dari kehidupan sehari-hari lainnya, khususnya dari periode Hellenis-Romawi. Perbandingan dari hal ini dengan kitab-kitab Perjanjian Baru telah memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap pemahaman kitab mengenai bentuk dan isi kitab.
Pengetahuan historis dalam dua abad terkahir telah dengan sangat mempengaruhi setiap aspek dari pemahaman alkitabiah kita. Tidak hanya pemahaman kita tentang bagian khusus yang bertambah, tetapi juga pengetahuan kita mengenai sejarah dan bahasa dari teks alkitab itu sendiri. Hal ini menyadarkan kita bahwa penulisan Alkitab merefleksian situasi historis dari mana mereka muncul. Mengakui dimensi historis penulisan Alkitab ini berarti bahwa diakui sebagai ciri-ciri esensial dari bentuk penafsiran teks Alkitab. Untuk alasan ini, banyak komentar alkitabiah, khususnya yang diproduksi di abad-abad lalu, memberikan begitu banyak referensi untuk teks-teks parallel dan masukan-masukan untuk mempelajari dokumen-dokumen dalam menginterpretasikan teks itu sendiri.
            Dimensi historis kedua, tafsiran harus mengeksplorasikan sejarah “dari” teks, atau situasi di mana teks itu muncul-situasi dari penulis dan yang terlibat. Banyak diketahui sekarang bahwa kebanyakan buku-buku Alkitab tidak disebutkan pengarangnya (anonymous). Misalnya, tidak satu pun dari keempat Injil memuat referensi yang eksplisit tentang siapa yang penulisnya, meskipun pada abad kedua dan ketiga, mereka ditentukan sebagai Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Pada kenyataannya, banyak diakui sekarang bahwa penulisan Alkitab seringkali diedit dari pada ditulis oleh individu dan bahwa banyak orang dan kelompok berperan dalam proses pengeditan ini, yang sering di beberapa pihak, diperpanjang melampaui sebuah periode dekade atau bahkan hingga berabad-abad. Hal ini membutuhkan perubahan cara di mana penafsir mengerti hubungan antara penulisan Alkitab dan kemurnian pengirim dan penerima penulisan ini.
            Salah satu ilustrasi terbaik untuk hal ini dapat dilihat dalam Perjanjian Lama yaitu Kitab Daniel, di mana peristiwa yang tergambar dalam teks terjadi dari abad keenam sampai abad kedua s.M, namun buku itu dikarang pada pertengahan abad kedua s.M. Untuk itu, untuk mengerti bagian dari Kitab Daniel, penafsiran butuh menjadi familiar dengan keduanya, abad keenam, periode dimana peristiwa itu digambarkan, dan abad kedua, periode penahbisan kitab tersebut. Sama halnya juga dengan menafsirkan Injil. Sangat penting untuk mengetahui tentang perkembangan historis dalam keyahudian dan kekristenan dalam paruh akhir abad pertama masehi, waktu penulisan, dan seperti tiga puluh tahun pertama di abad pertama, waktu pelayanan Yesus. Ambil contoh, untuk mengerti pertentangan antara Yesus dan golongan Farisi dalam Matius 23, sama pentingnya untuk mengetahui sejarah hubungan Yahudi-Kristen setelah 70 tahun M,dan sejarah golongan Farisi dalam pelayanan Yesus.

Kesimpulan
            Kesimpulan yang kelompok tarik dari pembahasan kritik teks dan kritik sejarah adalah ketika dokter sedang melaksanakan operasi, sang dokter membutuhka sebuah pisau bedah agar operasi tersebut dapat berjalan.
            Hal itu sama dengan yang dilakukan dengan seorang penafsir. Secara tidak langsung sang penafsir adalah seorang dokter yang ahli bedah. Hermeneutika (kritik teks dan kritik sejarah) adalah pisau bedah. Jadi, sang penafsir adalah seorang ahli bedah yang menggunakan kritik teks dan kritik sejarah untuk membedah Alkitab secara tajam. Kritik teks dan kritik sejarah adalah alat paling utama untuk membedah Alkitab.

Perjalanan Hidup Musa


Perjalanan Hidup Musa


            Zaman dahulu kala, orang Israel menumpang di Mesir 400 tahun lamanya. Untuk mengakhiri masa itu  bangsa Mesir melakukan tindakan sadis yaitu penganiayaan kepada bangsa Israel. Penganiayaan ini bertujuan untuk membangun keinginan dalam hati bangsa Israel agar meninggalkan Mesir dan pulang ke tanah Kanaan, negeri perjanjian itu.[1] Pada saat itu berkuasalah seorang raja bernama Firaun yang dikenal kejam terhadap orang-orang yang melawan kekuasaannya.
            Suatu hari, lahirlah seorang anak laki-laki Israel keturunan Lewi di tanah Mesir. Pada saat itu bangsa Israel berada dalam penderitaan akibat tekanan Raja Firaun. Pemerintahan Firaun memberikan perintah bahwa semua anak laki-laki bangsa Israel harus di bunuh. Hal ini membuat sang ibu menjadi kuatir akan nasib anak laki-lakinya. Sang ibu mengambil keputusan untuk menyembunyikan bayinya agar pasukan Raja Firaun tidak membunuh anak laki-lakinya.
            Anak laki-laki itu disembunyikan selama tiga bulan di sebuah tempat yang hanya diketahui oleh ibunya. Akan tetapi, sang ibu tidak dapat menyembunyikan anaknya lebih lama lagi, sehingga ia harus mengambil tindakan lain untuk menyelamatkan anaknya. Lalu sang ibu mengambil sebuah peti pandan, diletakkannya bayi itu, dan ditaruhnya peti itu di tengah-tengah Teberau di tepi sungai Nil.
            Suatu ketika, datanglah Putri Firaun dan dayang-dayangnya ke sungai Nil untuk mandi. Ketika Putri Firaun sedang mandi, ia melihat sebuah peti yang berada ditengah-tengah teberau sungai Nil. Ia menyuruh dayang-dayangnya untuk mengambil peti yang berada di tengah teberau itu. Putri Firaun membuka peti tersebut dan melihat seorang bayi menangis di dalam peti itu. Hal ini membuat hati Putri Firaun menjadi iba melihat bayi itu meskipun ia mengetahui bayi itu merupakan orang Israel.
            Putri Firaun menyuruh seorang gadis untuk memanggil seorang inang penyusu dari perempuan Ibrani untuk menyusui bayi itu. Lalu pergilah gadis itu dan segera mencari seorang inang penyusu yang ternyata adalah ibu kandung bayi itu.. Beberapa saat kemudian datanglah inang penyusu itu ke hadapan Putri Firaun. Lalu Putri Firaun berkata: “ Bawalah bayi ini dan susukanlah dia bagiku, aku akan memberi upah kepadamu”. Kemudian inang penyusu itu mengambil bayi itu dan merawatnya hingga besar.
            Inang penyusu merawat bayi yang di titipkan Putri Firaun itu hingga besar. Setelah bayi itu besar, inang penyusu itu membawa kembali bayi tersebut ke hadapan Putri Firaun. Lalu Putri Firaun mengangkat bayi itu menjadi anaknya dan menamai bayi itu Musa. Putri Firaun mengatakan bahwa ia memberikan nama Musa karena ia telah menarik bayi itu dari air. Inilah awal permulaan kisah Musa sehingga ia menjadi bagian dari Kerajaan Firaun.
            Dalam Kerajaan Firaun, Musa diperlakukan sangat istimewa seperti seorang raja. Segala sesuatu yang ia inginkan selalu tersedia  karena ia merupakan anak kesayang dari Putri Firaun. Musa dididik dalam istana Firaun dan kepadanya diajarkan segala pengetahuan orang Mesir, supaya kelak menjadi pemimpin bangsa Mesir yang bijaksana seperti yang diharapkan oleh Putri Firaun.
            Perlakuan istimewa yang selalu Musa peroleh dari Kerajaan Firaun tidak membuat Musa lupa bahwa ia sebenarnya adalah seorang Israel. Musa mengetahui bangsa Israel sangat menderita karena ditindas oleh penguasa-penguasa Kerajaan Firaun. Ia bahkan memiliki rencana untuk memakai kekuasaannya di Firaun untuk menolong bangsa Israel agar terlepas dari penderitaan.
            Pada suatu hari, Musa melihat salah satu orang Mesir menganiaya orang Israel. Melihat kejadian itu, Musa sangat marah dan membunuh orang Mesir yang sudah menganiaya orang Israel itu. Musa membunuh orang Mesir itu dan menyembunyikan mayatnya ke dalam pasir. Awalnya Musa mengira tidak akan ada orang yang melihat perbuatannya, tetapi ternyata ada dua orang Ibrani yang melihat Musa membunuh orang Mesir tersebut. Hal ini menjadi penyebab ketakutan Musa, ia takut perbuatannya akan sampai ke telinga Firaun.
            Ketika Firaun mendengar tentang perkara Musa, maka Firaun mencari ikhtiar untuk membunuh Musa. Akan tetapi Musa melarikan diri dari hadapan Firaun dan tiba di tanah Midian. Di Midian, ia mendapat perlindungan dari seorang imam yang bernama Yitro. Imam Yitro memiliki anak perempuan bernama Zipora yang kemudian menjadi istri Musa. Pada saat itu Musa hidup dengan istri dan mertuanya dan menjadi seorang gembala ternak mertuanya.
            Suatu hari saat Musa menggembalakan kambing dan domba milik mertuanya ke seberang padang gurun, dan sampailah ia du gunung Allah, yakni gunung Horeb. Lalu pada saat itu malaikat Tuhan menampakkan diri kepada Musa dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Musa heran melihat hal itu, ia melangkahkan kakinya untuk mendekat pada semak duri dan tiba-tiba terdengar suara Tuhan yang berasal dari semak duri tersebut. Tuhan berkata kepada Musa mengenai umat Allah yang teraniaya,yaitu bangsa Israel. Tuhan mengutus Musa untuk menolong bangsa Israel keluar dari masa penderitaan yang disebabkan oleh bangsa Mesir.
            Mendengar perkataan Tuhan, Musa merasa bahwa tidak akan ada orang yang percaya bahwa ia merupakan utusan Tuhan untuk menolong bangsa Israel. Lalu Allah menunjukkan sebuah keajaiban kepada Musa dengan merubah tongkat menjadi ular. Mujizat inilah yang akan diperlihatkan kepada orang yang tidak percaya bahwa Musa merupakan utusan Allah. Awalnya Musa menolak perintah Allah, akan tetapi Allah meyakinkannya dan akan memberkati Musa dalam perjuangannya menolong bangsa Israel.
            Lalu Musa berangkat ke Mesir bersama istri dan anak laki-lakinya. Ditengah perjalanan menuju Mesir,  Musa bertemu dengan Harun yang juga diperintahkan Allah untuk mengawal Musa sampai di tanah Mesir. Sesampai di Mesir Musa dan Harun pergi kepada para tua-tua Israel untuk membahas mengenai hal ini.[2] Tua-tua Israel percaya bahwa Musa dan Harun adalah utusan Allah untuk membebaskan bangsa Israel keluar dari tanah Mesir.
            Setelah itu Musa dan Harun pergi menghadap Firaun, lalu mereka berbuat seperti yang diperintahkan Tuhan. Dihadapan Firaun, Harun membuat keajaiban dengan melemparkan tongkatnya dan tongkat itupun berubah menjadi ular. Melihat hal itu, Firaun langsung memerintahkan orang-orang sihir untuk melakukan hal yang sama seperti             yang dilakukan oleh Harun. Masing-masing dari orang-orang sihir itu melemparkan tongkat mereka dan berubah menjadi ular akan tetapi tongkat Harun menelan tongkat-tongkat milik penyihir itu. Hati Firaun berkeras, sehingga tidak mau mendengarkan perkataan Musa dan Harun, seperti yang telah difirmankan Allah.
            Melihat tindakan Firaun yang tidak mau mendengarkan Musa, maka murkalah Allah. Allah mendatangkan tulah pertama atas Mesir dengan memerintahkan Musa merubah air sungai Nil menjadi darah, sehingga seluruh air sungai Nil berbau busuk dan tanah Mesir dipenuhi dengan darah. Firaun berpaling, lalu masuk ke istananya dan tidak peduli dengan apa yang terjadi di Mesir pada saat itu.
            Ketidakpedulian Firaun membuat Allah semakin murka, sehingga Ia mendatangkan kembali tulah yang berbeda-beda. Selama berhari-hari lamanya tulah tersebut meliputi tanah Mesir. Seluruh Mesir dipenuhi oleh katak, nyamuk, lalat  pikat, penyakit sampar pada ternak, barah, hujan es, belalang, gelap gulita, dan kematian anak sulung bangsa Mesir.
            Pada malam terakhir orang Israel menumpang di Mesir, kira-kira tengah malam keluarlah Tuhan berkeliling untuk membinasakan semua anak sulung orang Mesir. Pada malam itu orang Israel harus merayakan Paskah. Rumah yang dibubuhi darah pada kedua tiang pintu dan ambang atasnya akan dilewati oleh Tuhan
           


[1] I. Snoek. Sejarah Suci. (Jakarta:1981) hal.60.
[2]               Ibid. hal. 63.

Daftar Nabi-Nabi Israel


DAFTAR NABI-NABI ISRAEL

Nabi adalah orang yang menerima pengelihatan atau nubuat dari Allah sebagai pesan melalui mimpi dan kemudian menyampaikannya kepada orang banyak. Nabi adalah pejuang keadilan sosial yang mempunyai sikap kritis terhadap istana dan lembaga-lembaga kerajaan. Berikut adalah struktur atau bagan nabi-nabi yang diurutkan dari yang pertama hingga terakhir.

Bagan Nabi-nabi Israel
KERAJAAN ISRAEL UTARA
                                                                             
                 

 HOSEA                                                                                                          AMOS                  
  ± 750 SM                                                                                                       ± 750 SM
- Kasih Allah kepada                                                                                   Protes melawan
   Umat bangsaNya                                                                                      ketidakadilan
  Yang tidak setia                                                                                         sosial di
- Perkawinan Hosea,                                                                                    Kerajaan Israel.
   Sebagai simbol relasi
  Antara Allah dan bangsaNya.
YERUSALEMYESAYA                                                                                                            MIKHA
± 725 SM                                                                                                              ± 725 SM
- Kepercayaan akan Allah                                                                           Proses melawan                     
- Immanuel.                                                                                                 ketidakadilan 
                                                                                                                    Sosial.
YERUSALEM

ZEFANYA
± 625 SM
Proses melawan sinkretisme, sebelum melawan Yosia
 

YEHUDA
 


NAHUM                                                                                                  HABAKUK
± 615 SM                                                                                                  ± 615 SM
Berita tentang                                                                                       Nabi percaya bahwa
Jatuhnya kota                                                                                       orang saleh akan
Niniwe ( Asyur ).                                                                                 diselamatkan dari
                                                                                                              antara orang fasik.



YERUSALEM

YEREMIA
± 600 SM
Yerusalem dan Yehuda akan jatuh ke tangan Babylon

 



BABYLON

YEHEZKIEL
± 590 SM
-          Yerusalem akan hancur ( sampai 587 SM )
-          Yehuda akan diselamatkan dari pembuangan di Babylon ( sesudah 587 SM )
-          Rencana pembangunan Bait Allah.
 



YEHUDA

OBAJA
± 586 SM
Protes melawan bangsa Edom.
 



BABYLON

DEUTRO-YESAYA
± 540 SM
                 -  Kelepasan dari Babylon
-          Allah pencipta
-          Hamba Tuhan
-          Monotheisme.
 



BABYLON

TRITO-YESAYA
Sesudah masa pembuangan di Babylon
-          Keadaan sesudah masa pembuangan di Babylon
-          Sabat.

 








YERUSALEM
 





HAGAI                                                                                                     ZAKHARIA
± 520 SM                                                                                                   ± 520 SM                                                             
Mendorong untuk membangun                                             - Mendorong
Kembali Bait Allah.                                                                pembangunan kembali
                                                                                               Bait Allah.
                                                                                            - Dua Almasih, yaitu
                                                                                              Zerubabel dan Yosua.


       



YERUSALEM

MALEAKHI
± 500 SM
-          Melawan kurban yang kurang baik
-          Protes melawan perkawinan campuran
-          Nabi Elia mendahului datangnya Almasih/ Mesias.
 





YERUSALEM                                                                                                  YEHUDA

   YOEL                                                                                                               YUNUS
± 400 SM                                                                                                           ± 400 SM
-    Tulah belalang sebagai simbol                                                              Protes melawan
 Datangnya hari Tuhan                                                                          Patrikularisme                                      
-   Datangnya roh kudus                                                                           Yehuda.