Misi, Gereja dan Teologi di Cina dan Taiwan sejak abad XVI
Perkembangan
Kekristenan di Cina dan Taiwan sejak abad XVI memiliki dinamikanya
masing-masing.Perkembangan di Cina memiliki ciri khasnya tersendiri.Demikian
pula dengan perkembangan di Taiwan.Bagaimanakah perkembangan kekristenan di masing-masing
wilayah ini, baik di Cina maupun di Taiwan?Apa yang mempengaruhi kekristenan di
masing-masing wilayah?
Kata kunci: komunis, revolusi
kebudayaan, kolonialisme, politik, Cina, dan Taiwan.
Pada dasarnya
perkembangan keagamaan di Cina cukup bervariasi, dalam hal ini kekristenan di Cina banyak berkembang di
beberapa daerah pesisir karena adanya beberapa pelabuhan yang menjadi pertemuan
antara Cina dengan dunia luar (Barat dan Asia lainnya) melalui jalur perdagangan.
Melalui jalur-jalur perdagangan para misionaris berdatangan dari berbagai
negara. Daerah-daerah seperti pelabuhan di Canton (Guangzhou), Amoy (Xiamen),
Foochow (Fuzhou), Ningpo, dan Shanghai merupakan pusat aktivitas misionaris.
Hingga sekarang mayoritas orang Kristen banyak berkembang di propinsi yang
dekat dengan pantai antara Shanghai dan Guangzhou. (Melton 2005, 136-137)
Perkembangan Kekristenan di Cina
di Bawah Tekanan
Permusuhan
antara pemerintah Cina dan orang-orang Barat memuncak dengan terjadinya Perang
Candu.Perebutan kekuasaan perdagangan opium menjadi alasan utama dan mengapa
perang ini disebut sebagai perang candu.Perang ini
terjadi dua kali, yaitu pada 1839 hingga 1842 dan 1856 hingga 1860. Dari dua
kali perang ini, Cina menjadi pihak yang kalah dan sebagai konsekwensinyaCina harus
terbuka untuk pengaruh luar. Cina terpaksa mematuhi perjanjian Nanjing yang
membuka jalur perdagangan, politik, ekonomi, dan keagamaan masuk ke Cina. Tentu
hal itu lebih menguntungkan pihak Inggris dan merugikan Cina. Pada sisi lain,
kalahnya Cina dari Inggris ini memberikan keuntungan bagi kegiatan-kegiatan
misi di Cina untuk berkarya kembali. Melalui perjanjian Nanjing, ada lima
pelabuhan Canton (Guangzhou), Amoy (Xiamen), Foochow (Fuzhou), Ningpo, dan
Shanghai) yang terbuka lebar bagi penginjil dan tentunya dengan tanpa gangguan.
(Melton
2005, 137)
Ada beberapa
badan misi yang berkembang di Cina, seperti LMS, CMS, CIM.Setelah perang dunia
kedua, badan penginjilan Protestan mendirikan China Inland Mission (CIM).CIM didirikan olkeh James Hudson Taylor
pada tahun 1865.Pada abad XIX, Cina menjadi salah satusasaran misi
Protestan.Misionaris Protestan pertama yang datang ke Cina adalah Robert
Morrison (1782-1834). Di bawah naungan London
Missionary Society (LMS), Morrison datang ke Cina pada tahun 1809 melalui
daerah pesisir Macau dan Canton (sekarang Guangzhou). Untuk mendapat status
yang resmi untuk tinggal di Cina, ia bekerja di East India Company. Dalam pekerjaan misinya, ia melakukan
pendekatan dengan para pejabat pemerintah Cina. Atas semua usahanya itu,
Morrison berhasil menterjemahkan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Cina pada
tahun 1813. Pada tahun 1819, bersama dengan William Milne, Morrison berhasil
menterjemahkan Perjanjian Lama dalam bahasa Cina. Ia juga berhasil menerbitkan
kamus bahasa Cina-Inggris.
Pada tahun
1850an terjadi pemberontakan petani kepada pemerintah Cina.Pemberontakan ini
lebih dikenal sebagai pemberontakan T’ai
P’ing (1853-64).Pemerintah Cina dengan bantuan dari pasukan militer Barat
dapat meredakan pemberontakan ini.Atas bantuan tersebut, Cina harus rela
membuka diri untuk Barat dan termasuk terbuka untuk kegiatan misi. Shanghai
menjadi pusat perdagang Barat di Cina dan juga menjadi pusat kehidupan gereja
Protestan Cina. Kekristenan pada masa ini berkembang lambat karena mereka
selalu dicurigai dan dihambat pemerintah, apalagi pemimpin pemberontak Taiping
mengaku sebagai orang Kristen.Pemerintah Cina menganggap kekristenan sebagai
pemberontak. (Hillerbrand 2004, 636)
Pada tahun
1899an, kembali terjadi pemberontakan menetang Barat yang disebut dengan
pemberontakan Boxer (1899-1900).
Permberontakan petani yang diawali pertikaian karena pembangunan jalur kereta
api yang tidak sesuai dengan feng shui.Pemberontakan itu cepat meluas dan dalam hal ini orang
kristen merupakan pihak yang juga disalahkan untuk dominasi asing di Cina. Di
daerah Shandong dan Shangxi, korban pemberontakan ini kurang lebih ribuan orang
asing (termasuk misionaris) dan 30.000 orang kristen Cina dibunuh. (Hillerbrand
2004, 637) Lagi-lagi kekristenan selamat karena pengaruh asing, aliansi delapan
negara dikerahkan untuk mengatasi pemberontakan ini. Setelah pemberontakan
berakhir, aliansi ini mengenakan sanksi berat kepada pemerintahan Qing, seperti
ganti rugi 450 juta tael. Adanya sanksi ini sangat mempengaruhi kondisi
politik, sosial, dan ekonomi pemerintah. Pemerintah harus membebankan pajak
tinggi kepada masyarakat dan hal ini mengakibatkan melemahnya kepercayaan
rakyat kepada pemerintah. (Melton 2005, 137)
Ironisnya
setelah pemberontakan Boxer dan kesengsaraan rakyat Cina karena tekanan militer
asing hal itu diiukuti dengan berkembangnya kekristenan dan pekerjaan misi di
negeri tirai
bambu [YS1] ini.
Pada tahun 1911, revolusi di Cina terjadi di bawah pimpinan Sun Yat Sen.
Keadaan pemerintahan Cina semakin membaik, ia berhasil menyatukan Cina menjadi
republik. Pada masa ini, para misionaris banyak berdatangan ke Cina, mencapai
8.000 misionaris di tahun 1925, dan penganut kristen bertambah drastis.
Kekristenan membawa banyak perubahan di Cina, banyak sekolah, rumah sakit
kristen dan seminari dibuka. Mereka membuka
pikiran tentang emansipasi, perempuan Cina sekarang dapat merasakan pendidikan
modern dan dapat berkarier dengan bebas, seperti mengajar, pengobatan dan
pekerjaan sosial. Para misionaris juga membentuk penginjil asli Cina (Sino)untuk melanjutkan pekerjaan misi
ini.Para Sino banyak membantu para
misionaris untuk menterjemahkan Alkitab dan literatur asing. (Hillerbrand 2004,
636) Akan tetapi pemerintahan Sun Yat Sen tidak berlangsung lama, pada tahun
1949 terjadi perang saudara yang panjang antara kaum komunis dan
nasionalis.Pada akhirnya Sun Yat Sen dapat digulingkan dan diproklamasikan
Republik Rakyat Cina di bawah pimpinan Mao Tse Tung.Mao mendirikan negara Komunis dan memproklamirkan Cina bebas dari pengaruh
asing. Maka ia memulangkan kembali semua misionaris ke negara asal mereka.
Orang kristen dibiarkan akan tetapi diawasi.
Pada saat pemerintahan direbut oleh kaum komunis pada tahun 1947,
pemerintah pada awalnya bersikap toleran terhadap orang kristen. Akan tetapi
sikap itu semakin surut yang pada akhirnya memaksa orang kristen untuk
menandatangani suatu pernyataan yang menyatakan bahwa mereka harus menunjukkan
kebencian terhadapimperialisme, feodalisme, kapitalisme birokratis. Dalam hal
ini, gereja juga dipandang sebagai kaki tangan invasi barat yang membawa
imperialisme Barat. Oleh karena itu, gereja dipaksa untuk memutuskan hubungan
dengan Barat serta harus turut serta dalam rencana pembangunan pemerintahan
Komunis. Pemerintah komunis memulangkan semua misionaris dari luar. Dengan
tekanan sedemikian rupa, Gereja-gereja akhirnya mengumumkan “Gerakan Tiga
Kemandirian”, yang menegaskan kemandirian kegiatan misi, keuangan dan
pemerintahan gereja mereka dari pengaruh asing. (Yewangoe 2004,
30)
Setelah
30 tahun pemerintah komunis berkuasa di Cina, pada tahun 1978 Deng Xiao Ping
diangkat menjadi pemimpin Cina, ia memberlakukan “politik pintu terbuka” yang membuka
Cina pada modernisasi. Ini sering disebut dengan revolusi kebudayaan (wen hua = budaya panas). Di bawah
pemerintahan Deng, Cina semakin terbuka kepada pengaruh luar.Hal ini ditandai dengan kemajuan di berbagai bidang,
seperti politik, sosial, ekonomi, teknologi, pendidikan dan keagamaan.
Kekristenan sendiri semakin berkembang. Pendidikan kristiani diajarkan hampir
di semua akademi di Cina. (Kim 2008, 90-91)
Refleksi saya,
kekristenan di Cina merupakan salah satu contoh jelas bagaimana kekristenan dapat
berkembang melalui
[YS2] kolonialisme.
Kolonialisme bagaikan buah simalakama, satu sisi menguntungkan bagi kegiatan
penginjilan karena dengan mudah dapat masuk ke daerah tertentu dan
mengemberitakan Injil, akan tetapi di sisi yang lain hal itu malah merugikan
kekristenan karena seringakali dibenci dan dituduh antek dari kolonial.
Misi Katolik
a.
Fransiskan
Kedatangan misi Katolik pada abad XIIIdan
XIV diAsia adalah untuk mencapai orang
Kristen dan mempersatukan gereja-gereja di Asia dengan gereja Katolik Roma. Karena tujuan ini Gereja Roma Katolik mengirim
utusan-utusannya untuk mengabarkan injil di Asia. Pada saat itu sebagian besar
Asia berada dibawah kekaisaran Mongol termasuk Cina sehingga untuk memasuki
Cina terlebih dahulu diperlukan informasi yang jelas mengenai pemerintahan
Mongol. Setelah pemimpin Katolik mengutus beberapa kedutaan ke Mongol pada
tahun 1245. Barulah orang Eropa mulai tertarik dan datang ke Asia.
Pada tahun 1260 orang Eropa pertama [YS3] yang datang ke Tiongkok pada saat itu adalah Matteo dan Nicolo Polo (Wetzel, 2000, p. 109) . Melalui mereka Raja Khubilai Khan menitipkan surat untuk diberikan kepada
Paus Roma Katolik. (Wetzel, 2000, p. 109) . Surat tersebut
berisi permintaan seratus orang guru ilmu dan agama untuk mengajar di Cina pada
saat itu. Dua utusan Paus dari Dominikan yang sudah berangkat tidak sampai ke Cina. Pada tahun 1289 baru
diutus kembali seorang Fransiskan, Yohanes dari Monte Corvino.Ia tiba di
Khanbalik (Beijing) pada tahun 1293.
Kedatangan Yohanes mendapat respon yang baik dari Kubhilai Khan.
Yohanes berhasil mendirikan Gereja
Katolik Roma yang pertama di Cina pada tahun 1299. Selama menjalankan misinya
di Cina Yohanes mencoba mendirikan
golongan rohaniawan pribumi dengan mendidik anak-anak yatim piatu. (Chao, 1989, p. 18) . Yohanes belajar bahasa Mongol dan menterjemahkan Perjanjian Baru dan Mazmur. Ajaran
Yohanes diterima banyak orang.Ia juga menarik perhatian raja Suku Ongut.(Ruck, 1995, p. 57) Pada tahun 1305 ia
sudah membaptis 6000 orang Mongol di Cina. Pada tahun 1307 ia menjadi Uskup
Agung gereja Katolik pertama di Cina
b.
Yesuit
Sejak jatuhnya dinasti Mongol pada tahun
1370 negeri Cina menutup dirinya terhadap segala pengaruh asing(Ruck, 1995, p. 106) .Namun, hal ini tidak
menyurutkan semangat Fransiskus Xaverius untuk mengabarkan injil ke Cina.Sayang
semangat Xaverius tidak menolongnya mewujudkan cita-citanya mengabarkan injil
di Cina.Ia meninggal dalam perjalananya menuju Cina. Meskipun Xaverius gagal
mengabarkan injil di Cina hal ini tidak berarti bahwa penginjilan di Cina gagal.
Keinginan Xaverius menjadi tantangan tersendiri bagi banyak missionaries
Roma Katolik di Cina. Misionaris dari ordo Yesuit datang dengan
diperlengkapi pengetahuan geografi, matematika dan astronomi(Song, 1990) . Hal Ini nantinya
membantu mereka dalam mengambil hati para pejabat dan sejumlah sarjana. Apa yang membedakan cara kedatangan misi
Katolik Fransiskan dan Dominican, abad XIII-XIV
dengan Yesuit, abad XVI-XVII?
Pada tahun 1583 dua orang Yesuit, Matteo
Ricci dan Michael Ruggerius mendapatkan izin masuk dan menetap di daerah Kanton.(Ruck, 1995, p. 106) .
Namun, yang sangat terkenal adalah Matteo Ricci. Dalam menjalankan misinya Ricci sangat
menghargai para sarjana Kong Hu Cu. Ia merasa bahwa hanya dengan dukungan dari
Kaisar maka misinya dapat berhasil. (Wetzel, 2000, p. 148) . Ia mempergunakan
segala pengetahuan dan keahliannya. Selain itu ia juga menyesuaikan diri dengan
kebudayaan Cina, misalnya dengan gaya berpakaian. Ia pun berhasil merebut perhatian golongan-golongan kelas
atas. (Chao, 1989, p. 18) .
Ricci mengizinkan
orang Kristen di Cina tetap mengadakan upacara menghormati nenek moyang dan
Kong Hu Cu karena baginya hal ini tidak bertentangan dengankekristenan.
Ia menganggap perlunya menyesuaikan
agama Kristen dengan bentuk-bentuk kebudayaan yang ditemukannya.(End, 1988, p. 48) Oleh karena itu, banyak orang Cina yang
tertarik dengan ajarannya.Pada tahun 1608
terdapat 2500 orang Kristen di Tiongkok.
Namun, hal ini tidak berlangsung lama. Metode
Ricci tidak di terima oleh banyak teolog Roma Katolik karena menganggap
mengizinkan adanya sinkretisme. Beberapa
misionaris yang datang dari ordo lain sekitar tahun 1631 ( seperti Dominikan
dan Fransiskan) menggunakan metode yang berbeda dengan Ricci. Mereka menolak penghormatan terhadap nenek
moyang dan Kong Hu Cu. Perbedaan ini membuat bingung orang Kristen di Cina. Di
tengah-tengah kebingungan itu misi Roma-Katolik tetap berkembang, pada tahun
1675 jumlah orang Kristen di Cina
sekitar 300.000 orang. (Wetzel, 2000, p. 148)
Meski jumlah orang Kristen telah
berkembang namun penolakan dari pihak Katolik Roma terhadap penghormatan nenek
moyang telah membuat Kaisar tersinggung
sehingga menimbulkan masalah yang besar pada saat itu. Pada tahun 1724 Kaisar
mengeluarkan perintah agar semua pekabar injil di usir, kecuali beberapa orang
Yesuit yang kemampuannya digunakan dalam pemerintahan.(Chao, 1989, p. 18) . Kejadian ini menjadi pukulan yang
berat bagi Gereja Roma Katolik pada saat itu
Tokoh-tokoh
Misionaris di Cina abad 19 dan 20
Perkembangan kekristenan di Cina timbul tenggelam. Sampai
dengan awal abad ke-19 pintu untuk masuk
ke Cina masih belum terbuka lagi. Pada tahun 1800 orang Cina dilarang
mengajarkan bahasa asing kepada bangsa asing. Segala bentuk penerbitan
buku-buku Kristen dalam bahasa Cina juga dilarang. Cina benar-benar menutup
dirinya terhadap pengaruh luar. Kekristenan masih sulit berakar dalam
kebudayaan Cina. (Ruck, 1995, p. 137) Kontroversi-kontroversi pada
abad-abad terdahulu menjadi pelajaran, yaitu bagaimana dengan mudahnya karena
sebuah kesalahan kelompok tertentu dapat sangat berdampak bagi kekristenan yang
minoritas di Cina. (Moffet, 2005) .
Pada
awal abad 19 keinginan para missionaries untuk mengabarkan injil ke negeri yang
memiliki jumlah penduduk terbesar, yaitu Cina.(Wetzel, 2000) Pelopor misi Protestan yang pertama di
Cina adalah Robert Morrison.Ia datang tahun 1807, pada dinasti Qing atau masa
pemerintahan Manchu di Cina. Ia merupakan utusan badan misi Protestan, London Missionary Society. (Ruck,
1995, p. 137)
Meskipun ia
sudah tiba di Cina, namun tetap tidak mudah untuk dapat melayani secara
terbuka. Ia mengalami berbagai berbagai rintangan. Dia hanya dapat masuk daerah
Tiongkok di daerah perdagangan.(Wetzel, 2000, p. 199) Morrison hidup
seperti seorang buronan sambil berusaha belajar bahasa Cina dari seorang
Katolik Cina. Pada tahun 1809 keadaan Morrison berubah, East India Company, sebuah perusahaan Inggris menggunakan kemampuan berbahasanya untuk menjadi penerjemah.(Moffet, 2005, p. 287)
Pada tahun 1813
kedatangan Morrison disusul oleh Wiliam Milne.Berbeda dengan Morrison, Milne
mengalami kesulitan ketika mempelajari bahasa Cina.(Moffet, 2005, p. 290) . Bersama dengan Morrison, Milne mendirikan
Anglo-Chinese College.Penginjilan Morrison memprioritaskan penerjemahan
Alkitab. Ia berhasil menerjemahkan
seluruh Alkitab ke dalam bahasa Cina pada tahun 1819. (End, 1988, p. 71) Ia memilih
menerjemahkan Alkitab karena melihat pengalaman sebelumnya para pekabar Injil
diusir dan meninggalkan orang-orang Kristen tanpa ada tanda-tanda kelanjutan
untuk melanjutkan kesaksian Firman Allah.(Moffet, 2005, p. 288) Cara penginjilan yang
dilakukan Morrison ini hanya membuat beberapa orang Tionghoa masuk
Kristen.Walau demikian karya Morrison ini nantinya menjadi dasar bagi pelayanan
misi yang berikutnya.
Usaha Morrison
untuk mencetak Alkitab terjemahannya dalam bahasa Cina dibantu oleh seorang
tukang cetak, Liang A Fa, yang menjadi Kristen karena pelayanan Milne. (Ruck,
1995, p. 139) .
Liang A Fa belajar di Anglo Chinese
College, kemudian pada tahun 1824 ia dinobatkan sebagai pengabar injil oleh
Morrison(Barnett & Fairbank, 1985, p. 40) . Liang A Fa
mengabdikan diri pada pengabaran Injil dan mengedarkan buku-buku di Cina,
meskipun karenanya ia sering dianiaya, dipukul atau dipenjarakan.(Ruck, 1995, p. 139) . Salah satu tulisan Liang A Fa yang sangat
berpengaruh pada saat itu adalah “ Good
Words To Admonish The Age”. (Moffet,
2005, p. 291)
Pada tahun 1842
Cina terbuka kembali bagi pelayanan misi.Hal ini membuat banyak lembaga Misi
mengutus misionaris ke negeri ini.Pada tahun 1853 Taylor berlayar ke Cina
sebagai utusan Chinese Evangelization
Society. Namun, karena badan pengutusnya saat itu tidak banyak membantunya
sehingga membuatnya bergantung pada badan misi lain. Hal ini pula yang
membuatnya membentuk badan misinya sendiri. Badan Misi ini dibentuk tahun 1865 untuk mewujudkan rencana cara
pengabaran injil yang baru, yaitu China
Inland Mission (CIM). (End, 1988, p. 73)
Taylor
mewujudkan injil dalam konteks Cina, cara ini sama seperti yang dilakukan oleh
Ricci. Taylor dan seluruh anggota CIM berusaha sebisa mungkin menyesuaikan diri
dengan adat-istiadat Cina, seperti menggunakan pakaian Cina(Wetzel, 2000, p. 200) .Taylor menginginkan
melihat orang Kristen Cina murni, bukan kekristenan yang hadir dalam bentuk
asing.(Ruck, 1995, p. 147) Tujuan utama Taylor
adalah menyebarkan injil seluas mungkin. Salah satu model yang digunakan dalam
CIM mengenai hal dana, yaitu prinsip
“faith mission”. (Moffet, 2005, p. 465) Arti dari “faith
mission” yaitu kebutuhan keuangan tidak pernah diumumkan tetapi hanya dibawa
kedalam doa.(Wetzel, 2000, p. 200)
Tidak jarang
pelayanan CIM dianggap kurang mendalam dari pihak lembaga yang lain namun pada
tahun 1873 CIM sudah memiliki 43 pos, dimana 35 penginjil Barat bekerja sama
dengan 60 penginjil dari dalam negeri. (Ruck, 1995, p. 147) . Pada tahun 1882
anggota CIM sudah berkeliling di setiap provinsi Cina dan beberapa pekabar
injil sudah menetap di 15 provinsi dari 18 provinsi pada saat itu. (Ruck,
1995, p. 147) Ini
merupakan hasil yang sangat baik pada saat itu.
Pada pertengahan
abad 19 muncul tokoh lain yang memberikan metode pengabaran injil yang berbeda
dengan sebelumnya. Dia adalah Timothy Richard.Ia diutus oleh Baptist Missionary Society ke Cina padda
tahun 1870.(Moffet, 2005, p. 474) Untuk memudahkannya
mendekati dan menginjili orang Cina, ia sangat menghormati kebudayaan Cina. Ia
juga belajar menyesuaikan dirinya dengan adat kebiasaan. Berbeda dengan Taylor
yang mengabarkan injil seluas mungkin maka Richards berfokus pada golongan
elite dengan maksud melalui mereka masyarakat dapat dijangkau luas.(Ruck, 1995, p. 148)
Selama
menjalankan misinya Richard mendirikan sekolah-sekolah sampai universitas serta
menerbitkan majalah-majalah umum yang bersifat Kristen.(End, 1988, p. 74) Ia menghasilkan Orang-orang Cina baru
yang telah belajar pendidikan modern, dalam arti pendidikan diluar sistim Kong
Hu Cu yang lama.(End, 1988, p. 74) Orang-orang yang
tercipta merupakan orang-orang
berpendidikan tinggi yang menilai dengan tajam dan mengecam korupsi
pemerintahan Dinasti Qing/Manchu.(Ruck, 1995, p. 174) . Merekalah yang
nantinya melahirkan revolusi politik di Cina pada tahun 1918.
Taiwan
Pada abad ke-15
orang-orang pegunungan di Taiwan menyebut Tayouan
khusus untuk daerah pegunungan yang mereka tempati.Namun, pada akhir masa
kekuasaan Dinasti Ming, namaTayouan
(Taaiwoan) digunakan untuk keseluruhan pulau tersebut. Lalu, pada pertengahan
abad ke-16 Portugis sampai ke pulau ini.Orang-orang Portugis menyebutnya dengan
Formosa yang artinya pulau yang indah.Sejak saat itu pula, Taiwan juga dikenal
dengan sebutan Formosa. (CCA 1979, 91)
Kegiatan
Pekabaran Injil masuk ke Taiwan pada sekitar abad ke-17.Ada dua gelombang kegiatan
Pekabaran Injil, yang pertama dilakukan oleh orang-orang Reformed Belanda
(1624-62) dan orang-orang Dominikus Spanyol (1626-42).Sedangkan yang kedua
(1859-1895) dilakukan oleh orang-orang Inggris. (CCA 1979, 93-95) Pekerjaan Pekabaran
Injil tersendat hingga abad ke-19.Baru, setelah adanya kesepakatan antara
pemerintahan Cina dengan Inggris kegiatan Pekabaran Injil dapat berjalan
kembali.
Pada tahun 1949,
orang-orang Cina daratan masuk ke Taiwan. Di saat yang sama masuk juga, Jiang
Kai-shek ke wilayah tersebut. Ia adalah pemimpin kubu nasionalis yang bernama
Kuo Min Tang, yang saat itu tengah berperang dengan kubu komunis di bawah
pimpinan Mao Zedong.Jiang Kai-shek dan keluarganya yang adalah penganut
Kristenmewajibkan buku renungan karangan Ni Dosheng, yang berjudul Sungai-sungai
di Padang Gurun, diedarkan di antara para tentara.Selain itu, Ibu Jiang pun turut
berperan dalam mengadakan pertemuan penelaahan Alkitab bagi pegawai negeri.Itulah
salah satucara kekristenan berkembang pesat di Taiwan.(Ruck 1995, 293)
Kekeristenan yang bertumbuh di Taiwan berbeda dengan kekristenan di Cina
daratan. Kekristenan masuk ke wilayah Taiwan tidak bersamaan dengan
kolonialisme. Oleh karenanya, teologi di Taiwan tidak mengenal adanya bentuk
penolakan atau anti Barat, sebagaimana terjadi di Cina. Muncul Gerakan New voice of Clergy dan kebijakan
Konsili Vatikan II dalam perkembangan teologi kontekstual Roma Katolik diduga
memberi warna tersendiri bagi kekristenan di Taiwan. Sedangkan, hadirnya
lembaga studi teologi di Tainan yang dipelopori oleh Gereja Presbiterian diduga
menjadi pengaruh kuat dari kaum Prostestan di Taiwan pada kisaran tahun
1949-1962. Upaya
berteologi kontekstual menjadi basis dari kegiatan Penginjilan yang dilakukan
Seminari Prostestan ini. (England 1981, 63)
Pertumbuhan
gereja stabil dan tidak mengalami perkembangan lagi hingga pada tahun 1960an.
Pengaruh industrialisasi dan urbanisasi di Taiwan di duga memberikan pengaruh
yang besar terhadap kemacetan pertumbuhan tersebut. Pada saat itu orang
berbondong-bondong pindah ke kota. Sementara, gereja-gereja di kota tidak siap
menyesuaikan diri dengan masyarakat kelas buruh yang terus bertambah. Pengaruh materialisme dan konsumerisme pun semakin kuat
di tengah masyarakat.Termasuk di dalamnya kampanye Billy Graham pada tahun 1973
yang membuat banyak orang menjadi Kristen. Namun, tidak
menunjukkan adanya pertumbuhan gereja yang berarti.(Ruck 1995, 295)
Pada masa ini
juga telah muncul aliran-alirah Protestan baru non-arus-utama seperti Gereja
Yesus Benar dan Kawanan Domba Kecil yang beraliran Pentakostal, Chinese
Baptist Convention,serta Taiwan Holiness
Church. Ada pula The Prestyterian Church
of Taiwan (PCT) satu-satunya gereja lokal yang menjadi anggota WCC.Selain
itu juga, PCT menjadi gereja Presbiterian pertama di di Asia yang mengembangkan
kegiatan berteologi kontekstual di Asia. (Melton 2005, 142)
Kesimpulan
dan Refleksi
Kekristenan di Cina dan Taiwan mengalami konteks yang berbeda. Pekerjaan
Pekabaran Injil di Cina lebih cenderung mengalami ketegangan dalam persoalan
politik dan sosial terkait dengan adanya kolonialisme. Sedangkan di Taiwan,
kekristenan lebih mudah diterima karena kekristenan tidak datang bersamaan
dengan para kolonialis.
Perkembangan teologi yang ada di Cina dan Taiwan pun memiliki
kecenderungannya tersendiri sekalipun sama-sama berbasis kontekstualisasi. Di
Cina, kekristenan dipandang sebagai bagian dari tradisi dan budaya barat. Oleh
karenanya penolakan terhadap budaya barat hadir di Cina. Sedangkan perkembangan
teologi di Taiwan yang tidak mengalami westernisasi, tidak menunjukkan adanya
upaya atau sikap anti terhadap tradisi ataupun budaya Barat.
Daftar
Acuan
Barnett, S. W., & Fairbank, J. K. (1985). Christianity
in China: Early Protestant Writings. London: Harvard University.
Chao, J. (1989). The China Mission Handbook: a portrait of
China and Its Church. Hong Kong: Chinese Church Research Center.
Christian
Confrence of Asian (1979). Christianity
in Asia. Singapore: CCA.End, V. d. (1988). Sejarah
Gereja Asia. Yogyakarta: Duta Wacana.
England, J. C. (1981). Living Theologi In Asia. New
York: Orbis Book.
Melton, J. G. (2005). Encyclopedia of Protestantisme
ebook. New York: Facts On File, Inc.
Moffet, S. H. (2005). A History of Christianity in Asia 2.
Orbis Book: New York.
Ruck, A. (1995). Sejarah Gereja Asia. Jakarta: Bpk
Gunung Mulia.
Song, C. S. (1990). Allah yang Turut Menderita.Jakarta: Bpk Gunung Mulia.
Wetzel, K. (2000). Kompedium Sejarah Gereja Asia. Malang: Gandum Mas.