Rabu, 20 Maret 2013

Pasang-Naik dan Pasang-Surut Kekristenan di Asia, 700-1500



Pasang-Naik dan Pasang-Surut Kekristenan di Asia, 700-1500

Pengantar
                Lebih dari tujuh abad sejak kemunculannya, Kekristenan sudah berjalan jauh hingga ke Timur. Mengikuti jalur sutra, Kekristenan telah singgah di daerah yang dilewatinya dan berkembang menjadi komunitas-komunitas dalam masyarakat, bahkan ada yang menjadi kekuatan politik. Perkembangan Kekristenan saat itu, sekitar tahun 700 sampai 1500, selain telah adanya komunitas Kristen di banyak tempat di Asia, mengalami kemunduran dan bahkan ada yang hilang sama sekali.
                Di Asia, cakupan dari tempat-tempat di mana Kekristenan berkembang dapat dibagi ke dalam tiga wilayah, yakni Armenia, India dan Cina.  Hingga abad ke-7, gereja-gereja Kristen sudah mapan, seperti di Armenia, India dan Cina, dan juga ditandani dengan adanya negara Kristen di Asia Tengah, seperti di Armenia. Di abad-abad berikutnya, dinamika perkembangan Kekristenan mengalami goncangan, khususnya setelah ada kekuatan politik dan sosial yang ikut menentukan keberadaannya. Terlepas dari hal itu, eksistensi Kekristenan itu juga tidak bisa lepas dari bagaimana gereja-gereja itu dapat bertahan dan yang juga penting ialah metode apa yang digunakan hingga Kekristenan saat itu dapat berkembang, atau sebaliknya tidak berkembang dan hilang.  
Kekristenan di Armenia
                Pada abad ke-3, bangsa Armenia telah menjadi Kristen. Jalan menuju Armenia yang Kristen itu dimulai dari Raja Tiridater III yang bertobat dan dibaptis oleh Gregorius Penerang (the Illuminator). Kekristenan Armenia menjadi identitas bangsa itu apalagi setelah adanya proses kultural yang begitu panjang, salah satunya penerjemahan Alkitab (Wessel 2004, 112-113). Corak Kekristenan di Armenia sendiri ialah monofisitisme. Secara politik, setelah abad ke-6, Armenia juga terpisah dari Byzantium (Wessels 2004, 112-113).
                Saat perluasan Islam terjadi di Timur Tengah, sekitar pertengahan abad ke-7, Armenia juga mengalami perjumpaan dengan Islam dan harus mengakui kekuatannya, kemudian ditaklukan oleh kekuasaan Arab Islam. Meski diduduki oleh Islam, di Armenia muncul Hovhannes Otzun, yang adalah katolikos Armenia, yang menulis banyak tulisan teologis. Ia juga pernah bertemu dengan Khalifah Umar II, pada 717-720, dan melakukan negosiasi dengannya (Wessel 2004, 113-114). Dalam kondisi terjajah pun, orang-orang Kristen Armenia tetap bisa mempertahankan dirinya.
                Ada masa ketika di Armenia terjadi perpecahan yang dimulai dari keluarga kerajaan. Pangeran Ashot di akhir abad ke-9. Ia mendirikan dinasti dan setelah orang Seljuk  satu abad berikutnya berkuasa di sana, banyak yang berpindah ke Kikilia di Turki (Wessel 2004, 114-115).  Selang dua abad berikutnya, ada juga sebuah kerajaan Armenia di daerah tersebut (Irvin & Sunquist 2001, 451-452). Perkembangan gereja dan teologi juga terjadi di sana. Gereja Armenia di Kikilia (juga disebut Armenia Kecil) berjumpa dengan orang-orang Gereja Yunani, sehingga mereka kemudian menyikapi hal tersebut dengan menerima hasil Chalcedon dengan tetap mengakui historisitas Nestorian dalam gereja tersebut. Namun demikian, Gereja Armenia, di luar yang di Kikilia, tetap tidak bisa menerima hal itu (Irvin & Sunquist 2001, 451-452).
                Selain karena diduduki oleh kekuasaan Islam, sejak bangkitnya Islam sampai kemudian berkuasanya orang Seljuk di Asia Barat, degradasi Kekristenan di Armenia terjadi karena ketegangan politis dan agama terjadi. Orang-orang Armenia terbuka terhadap kekuasaan Latin, terutama sejak datangnya pasukan Perang Salib, juga Raja Armenia yang membuka relasi dengan Paus di Roma, dan pada saat yang sama tetap berpegang pada teologi Timur mereka (Irvin & Sunquist 2001, 451-452). Kaum Fransiskan dan Dominikan datang ke sana pada pertengahan abad ke-13. Kedatangan mereka membawa dominasi gereja Barat dan justru membuat ketegangan umat di sana, karena sekarang ada dua pemimpin gereja yang menimbulkan masalah politik di Kikilia (Irvin & Sunquist 2001, 451-452; 493).
Kekristenan di India
Pada pembahasan kelompok sebelumnya kiranya sudah cukup jelas , bagaimana kekristenan muncul, berkembang dan bertahan di India. Salah satu pembawa agama Kristen ke India, ialah Rasul Thomas. Ia tiba di India dan memulai misinya, dan berujung pada berdirinya gereja pertama di India di daerah Parur. Seiring juga dengan datangnya kekristenan dari Syria ke India pada abad ke-4 dan  beberapa kelompok yang dibawahi oleh Bishop Joseph dari Urha serta Thomas dari Cana, akhirnya ada banyak gereja yang dibangun di India. Beberapa komunitas Kristen lainnya berada di belahan selatan India dan letaknya terpencar-pencar. Mereka pada umumnya menganggap dirinya sebagai pengikut Rasul Thomas. Atas dasar klaim inilah, mereka mengidentikkan diri mereka sebagai bakal gereja di India yang bersumber langsung dari Rasul Thomas. (Irvin & Sunquist 2001, 495)
Selanjutnya, sejarah mencatat bahwa perkembangan umat Kristen sekitar abad ke-4 sampai ke-15 di India mengalami perkembangan yang cukup pesat. Pada abad ke-8 gereja-gereja sudah semakin kuat posisinya oleh karena semakin banyaknya imigran dari daerah Persia. Metode yang digunakan oleh para penyebar agama ialah metode populisasi. Maksudnya ialah, dengan memperbanyak jumlah orang Kristen di tempat itu, sehingga diharapkan akan memperkuat kekristen di India saat itu. Sempat terjadi konflik dengan pemeluk agama Islam, tepatnya di abad ke-9, yang berdampak pada perkembangan agama Kristen di daerah selatan, tepatnya di daerah Cranganore hingga Kerala. (England 1996, 61)
Misi dari agama Islam yang hadir di India ialah, untuk menciptakan persatuan. Mereka menyadari bahwa dengan berkembangnya beberapa agama dan juga kebudayaan masyarakat yang beragam, maka akan sulit tercipta kesatuan. Melalui tindakan ini, mereka berupaya untuk menjadikan India, menjadi satu kesatuan. Untuk mewujudkan keinginan mereka ini, para pemeluk agama Islam memberikan sebuah pernyataan, “bahwa bagi siapapun yang tidak mau menyembah Allah yang mereka sembah, maka mereka bukanlah saudara kami.”  (Frykenberg 2008, 72)
Bagi siapa yang tidak mengikut Islam akan dikatakan kafir dan diasingkan dari komunitas. Pribadi itu tidak akan memeroleh hak dan kelayakan hidup di masyarakat saat itu, itulah salah satu konsekuensi dari tidak mengikut Islam. Para pengikut agama Islam yang baru, juga memiliki misi yang sama yaitu menyebarkan agama Islam ke seluruh penjuru negeri. Tiap pribadi juga harus menyadari bahwa mereka akan tergabung dalam suatu gerakan untuk melakukan jihad (yang mengatas-namakan Allah).
Usaha misi yang dilakukan oleh agama Islam tidaklah berjalan mulus. Pada awalnya mereka mengalami kesulitan untuk menembus masyarakat India, dengan seluruh kompleksitasnya. Agama Islam dengan segala usahanya yang progresif dan berkelanjutan akhirnya membuahkan hasil. Hal ini semakin kuat ketika dalam penyebaran agama itu, ada tiga golongan masyarakat, yaitu Arab, Persia, dan Turki, yang ikut membantu agama ini, sehingga dapat merangsek ke India. (Frykenberg 2008, 73) Hasilnya, ketika Islam mulai berkembang, maka Islam mulai menggeser beberapa gereja hingga ke daerah selatan India.[YS1] 
Pada perkembangan selanjutnya, terdapat juga beberapa gereja dan keluarga-keluarga di daerah Malabar yang hidup damai di tempat mereka tinggal, hingga abad ke-18. Salah satu hal yang mereka usahakan untuk mempertahankan kehidupan mereka adalah dengan memelihara tradisi yang telah dilakukan turun-temurun, misalnya tradisi peribadatan. Tradisi-tradisi itu di antaranya ialah, dengan melakukan praktek perjamuan kudus, baptisan anak dan dewasa. Dalam perjamuan kudus yang menjadi elemen tubuh dan darah Kristus ialah, roti dan anggur.
Hal menarik lainnya ialah melihat bagaimana perempuan diperlakukan di India. Para perempuan Kristen bertekad untuk mengusahakan kesetaraan hak bagi seluruh perempuan. Secara keseluruhan hak-hak mereka dibatasi hanya di rumah saja. Hal yang dapat mereka lakukan hanyalah ke gereja. Letak rumah mereka umumnya berada di sekitar gereja, oleh karena itu mudah bagi mereka untuk pergi beribadah. Namun, mereka tetap diikutsertakan dalam perayaan perjamuan kudus. (England 1996, 64)
Selama berabad-abad agama Kristen terus bertahan. Sempat mengalami pasang naik dan surut, tapi hal positifnya ialah agama ini masih tetap dapat bertahan. Dalam komunitas Kristen, beberapa unsur-unsur agama Hindu diterima, seperti pemberian persembahan, kegiatan berziarah, dan beberapa ornamen yang digunakan dalam upacara pernikahan. Hal yang menjadi perhatian ialah, bagaimana caranya agama Kristen – sebagai agama yang mereka anut – dapat berhubungan dengan agama Hindu yang beberapa praktik ibadahnya tetap melekat dalam tatanan masyarakat itu?
Penyebaran agama Kristen ke belahan dunia lain dari India, melalui jalur laut dengan bantuan para pedagang pun, mulai berkembang semakin pesat. Kita dapat menemukan beberapa tokoh terkenal, yaitu Marco Polo (1292), John of Monte Corvino (1305). Pada tahun 1504, dalam salah satu dokumen dikatakan bahwa perkembangan umat Kristen sudah mencapai 30.000 keluarga Kristen. Pada abad ke-14, para pedagang Armenian datang ke India baik melalui jalur darat, maupun laut. Keberadaan mereka tidak hanya di sana saja, tetapi hampir di seluruh Asia. (England 1996, 66)
Kisah Kristen di Cina
Dalam perkembangan kekristenan dari India sampai ke Cina, kita dapat melihat bahwa kekristenan lahir oleh karena usaha para misionaris Kristen[YS2] . Di Cina sekitar tahun 635, kekristenan datanglah oleh seorang biarawan-misionaris bernama Alopen dari kawasan Balkh. Alopen melakukan kegiatan missioner Kristen pertama di Cina dengan membawa sutra dan arca (Irvin & Sunquist 2001, 317).  Sutra dan arca yang dibawa oleh Alopen merupakan salinan-salinan kitab suci Kristen, teks-teks liturgi, literatur katekese dan sebuah salib.
Dalam pekabaran misi yang dilakukan oleh Alopen, Kaisar T’ai-tsung mengundang Alopen untuk datang ke istana dan memerintahkan Alopen menerjemahkan teks-teks yang dibawanya ke dalam bahasa Cina (Irvin & Sunquist 2001, 318). Setelah teks-teks yang dibawa oleh Alopen diterjemahkan, kaisar T’ai-tsung pun memeriksa ajaran-ajaran tersebut secara pribadi, yang kemudian disetujuinya untuk disebarkan pada tahun 638. Salah satu contoh teks Alopen, Jesus-Messiah Sutra mengajarkan tentang Tuhan penguasa langit yang tidak keliahatan, yang hidup dalam kedamaian dan memanggil setiap orang untuk hidup suci. Melalui pengajaran ini, setiap orang pun dituntut untuk taat kepada Allah, pemimpin suci, dan kepada ayah dan ibu. Dalam ajaran teks Jesus-Messiah Sutra,  selain ajaran Kristen terdapat juga ajaran Kong Hu Cu (Konfusianisme) yang menjadi ideologi kaisar. Oleh karena itu, teks-teks Alopen pun menjadi paham bagi para penguasa di Cina bahwa gerakan Kristen sebagai suatu sekte yang serupa dengan Buddhisme (Irvin & Sunquist 2001, 320). Tahun 650, Kaisar menganugerahkan gelar kehormatan bagi uskup Alopen atas pengajarannya. Dengan adanya anugerah dari kaisar, Alopen pun semakin mulus mengembangkan kekristenan di Cina hingga tahun 683, sebab pemerintah Cina mendukung dan melindungi pengajaran kekristenan.
  Pada tahun 691 di bawah pemerintahan permaisuri Wu Chou, Cina memaklumatkan Buddhisme sebagai agama resmi kekaisaran. Sejak peresmian Buddhisme diusung sebagai agama kekaisaran, kekristenan pun mulai ditindas oleh massa Buddhis dan kaum Taois sampai tahun 712. Pada tahun 744, seorang rahib bernama Chi-ho dan Lo-han dikabarkan memimpin kebaktian Kristen di istana raja. Selain Chi-ho dan Lo-han dalam perkembangan kekristeanan  di Cina, adapula prasasti yang mencatat tentang keberadaan seorang imam bernama Ching-ching. Ching-ching dikenal juga sebagai pertapa dan penulis yang produktif. Sedikitnya sudah ada 30 buku yang diterjemahkan Ching-ching ke dalam bahasa Cina, beberapa di antaranya adalah bagian-bagian kitab suci (Irvin & Sunquist 2001, 320) . Oleh karena karyanya, Ching-ching pun mencatatkan dirinya di sebuah katalog yang berisikan karya-karya Buddhis.
Pada pemerintahan Wu-tsung tahun 840-845 di Cina lahirlah pembaruan ideologi-ideologi keagaman nasional. Pembaruan ideologi ini diprakasai oleh kaisar Wu-tsung dan cendikiawan Kong Hu Cu. Dalam pembaruan ideologi ini, penganut agama-agama asing diusir dari Cina serta diharuskan hidup seperti seorang awam. Akibatnya sekitar 3000 rahib dan rubiah serta imam Kristen disekularisasi secara paksa. Para pengikut Buddhisme dan Zoroastrian pun dipaksa untuk meninggalkan panggilan mereka dan kembali ke kehidupan sekular. Dengan adanya pembaruan ideolog Kong Hu Cu, umat Kristen di Cina yang terdiri dari pedagang-pedangang ataupun para biarawan yang merupakan orang asing menghilang bersama dengan gereja dan biara yang diruntuhkan (Irvin & Sunquist 2001, 320).
Setelah perkembangan kekristenan surut beberapa abad di Cina. Pada tahun 1260, Khubilai Khan seorang penguasa di kawasan timur Mongol hadir di Cina untuk membawa kekristenan. Lewat penghapusan ideologi Konfusianisme dalam birokrasi negara dan pemakaian orang-orang Cina sebagai pegawai untuk pengumpulan pajak kekaisaran. Berbagai biara dan gereja pun mulai dibangun kembali sebagai  tempat orang-orang Mongol dan para saudagar Persia berkomunitas (Irvin & Sunquist 2001, 450) .  Komunitas para saudagar Kristen yang berasal dari Armenia dan Persia ini mendiami kawasan tenggara Cina yang disebut dalam catatan perjalanan Marco Polo.
Penutup
                Kekristenan di Asia pada periode ini mengalami pasang naik dan surut oleh karena adanya proses panjang sejak pekabaran Injil di [YS3] Asia, pergumulan teologi yang terjadi, sampai pada keadaan politik yang terjadi. Kekristenan Timur, dalam hal ini Nestorianisme,berkembang sampai ke Timur jauh, namun tidak dapat mendaratkan kekuatannya oleh karena pendekatannya, ada yang elitis dan ada yang populis, dalam rangka bertahan di tempat-tempat di mana ia berada. Di sisi lain, pergolakan politis dan sosial yang ada juga turut memberi pengaruh bagi perkembangan dan sekaligus kemunduran gereja.

Daftar Pustaka
England, John C. 1996 The Hidden History of Christianity In Asia. Delhi: ISPCK.
Frykenberg, Robert Eric.2008. Christianity in India. New York: Oxford University Press.
Irvin, Dale T., & Sunquist, Scott W. 2001. History of the World Christian Movement: Vol. 1, Earliest Christianity to 1453, New York: Orbis.
Wessels, Anton. 2004. Arab dan Kristen: Gereja-gereja Kristen di Timur Tengah, Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Tidak menggunakan sama sekali Dictionary... dari Sunquist?
Perhatikan catatan perbaikan redaksional! Untuk semester depan dan pada saat penulisan skripsi, jangan diulangi lagi kesalahan-kesalahan penulisan.
  


 [YS1]Mengapa bisa demikian? Apakah karena Islam menjadi agama para penguasa, sementara Kristen hanya dianut rakyat biasa?
 [YS2]Misionaris dalam arti apa?
Utusan yang dikirim oleh uskup?
 Atau para pedagang Kristen?
Atau orang-orang Kristen yang melarikan diri dari tempat asalnya?

Berapa banyak orang-orang Kristen baru yang merupakan hasil perjumpaan dengan misionaris? Pedagang? Para pelarian?

Berapa banyak orang-orang Kristen yang berkembang dari hasil perkawinan dan kelahiran?
 [YS3]Perhatikan pilihan kata!


Perkembangan Awal Kekristenan di Asia (Abad I hinggaVII)



Perkembangan Awal Kekristenan di Asia
(Abad I hinggaVII)

Abstrak
Dalam makalah ini, kelompok berusaha untuk memberikan gambaran tentang perkembangan awal kekristenan di Asia mulai dari abad I hingga abad VII. Periode ini juga akan memperlihatkan bagaimana perkembangan kekristenan di Asia Hellenistik dan non-Hellenistik. Perkembangan tersebut tentu tidak terlepas dari berbagai faktor politik, sosial, budaya (filsafat), dan juga perjumpaan dengan agama lain yang turut memberikan sumbangan secara positif maupun negatif dalam perkembangan kekristenan tersebut. Sebagai langkah awal dalam perkembangan kekristenan, tentu akan melampaui berbagai macam tantangan dan juga hambatan atau bahkan kemudahan dalam perkembangannya. Hal inilah yang memberikan keunikan tersendiri terhadap kekristenan dalam bersaksi dan menentukan jati diri dalam identitasnya.

Kata-kata kunci:
            Gnosis, askese, literatur, aniaya, konsili, rasul.

Perkembangan kekristenan di Asia Hellenistik dan non-Hellenistik
Asia adalah salah satu wilayah yang memiliki keunikan tersendiri dalam perjalanan sejarah kekristenan. Di Asia kekristenan lahir, tumbuh dan berkembang hingga saat ini, meski perkembangannya mengalami pasang surut. Semakin banyak orang Kristen di Barat menyadari bahwa kekristenan di Asia pada dasarnya tidak bersumber dari Eropa maupun dari dunia Barat. Tetapi berasal dari Asia Barat atau Timur Tengah yaitu asal dari agama Kristen tersebut. Kekristenan berawal di Timur Tengah tepatnya di Galilea dan Yerusalem sejak abad I (Wessels 2001, 1-2).
Secara alkitabiah, perkembangan kekristenan  berawal dalam Perjanjian Baru khususnya kitab Kisah Para Rasul 2. Dengan jelas, sejarah [YS1] kekristenan dimulai sejak peristiwa Pentakosta di Yerusalem. Dengan kuasa Roh Kudus, Injil dikabarkan oleh murid-murid Yesus di Yudea, Samaria hingga ke Kaisarea (Kis. 2:40). Di samping itu, seiring dengan peristiwa pertobatan Paulus, Injil juga dikabarkan hingga ke Fenisia, Siprus dan Anthiokia meskipun hanya dalam ruang lingkup orang-orang Yahudi saja. Setelah di Anthiokia, pekabaran Injil mulai melakukan lintas budaya dan orang-orang Kristen mendapatkan julukan sebagai “Kristen” (Wetzels 2000, 9-10).
Dalam perjalanan Paulus kita dapat melihat semangat Pekabaran Injil yang sangat luar biasa. Injil tersebar melampaui batas geografis bahkan masuk dalam lingkungan kekaisaran [YS2] Romawi seperti Pamfilia dan Galatia. Sedangkan dalam perjalanan kedua, pekabaran Injil dapat mencapai Eropa (Kis. 16:9, 11, 12). Tetapi dari sekian banyak perjalanan Paulus, titik berat perjalanannya adalah Efesus yang merupakan pusat Propinsi Asia pada saat itu. Sesudah di Yunani, Paulus juga kembali ke Yerusalem  hingga akhirnya menuju Italia (Kis. 27:1, 6) dan khususnya di Roma sebagai ibukota kekaisaran Romawi pada saat itu (Wetzels 2000, 11).
Pertumbuhan gereja dalam kekaisaran Romawi tidak terlepas dari hilangnya peranan Yahudi Ebonit akibat kekalahan dengan Roma, dan beberapa ratus tahun kemudian Yahudi Ebonit hilang sama sekali. Sedangkan pengaruh Gereja di Suriah pada awalnya lebih besar di antara orang-orang yang berbahasa Yunani. Sedangkan perluasan seperti yang tercatat di Kisah Para Rasul pekabaran Injil semakin terarah ke Timur mulai dari Anthiokia sampai ke Edessa. Pertumbuhan gereja dapat terlihat dalam bidang kehidupan Kristen dan teologi. Hal tersebut dibuktikan dengan berbagai karangan-karangan bapak-bapak apostolik misalnya Ignatius dalam tujuh suratnya yang menunjukkan tanda-tanda moralisme dan Hukum Taurat yang baru. Salah satu idenya adalah sebuah jemaat harus dipimpin oleh seorang uskup, dengan demikian maka terbukalah salah satu langkah ke arah kepemimpinan klerus dan hierarkhi. Tokoh yang lain juga muncul misalnya Theophilus uskup Anthiokia yang disebut sebagai apologet pertama di Suriah yaitu seorang teolog yang membela iman Kristen secara intelektual dalam bentuk argumentasi (Wetzels, 15).
Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan kekristenan, maka ancaman juga turut mewarnai perkembangan tersebut. Misalnya Gnostik, Hegesipus yang seorang Kristen dari latar belakang Yahudi yang memberikan konsep tentang prinsip dasar teologi (suksesi apostolik). Pengaruh ini juga sangat didukung oleh Gnositik yang menggambarkan askese sebagai keunikan gereja Suriah yang semakin menganut kerabian. Sementara itu, adanya diatessaron yang disusun oleh Tatianus dan dipakai oleh Efraim dalam pendirian sekolahnya sebagai bahan pengajaran sesuai dengan teologi Niceanum. Dalam hal ini, diatessaron dipahami sebagai usaha dalam menyatukan keempat kitab Injil menjadi satu kitab yang kemudian Rabbulah dari Suriah memperkenalkan Vulgata yang diterjemahkan dengan sederhana dan jelas yang disebut dengan Peshita (Wessels 2001, 24-25). Namun, pada akhirnya pemahaman ini ditolak karena berlawanan dengan Firman Tuhan, sedangkan dalam bidang liturgi, Suriah menjadi daerah yang paling produktif misalnya dalam pembentukan tulisan-tulisan Apokrif, bagian-bagian liturgis yang menunjukkan bahwa upacara pembaptisan menurut sifat Suriah berisi upacara mengoleskan, baptis selam dan perjamuan kudus. Sedangkan dalam bidang teologi, muncul Mazhab Anthiokia yang dipelopori oleh Paulus dari Samosata (Wetzels 2000, 16).
Sementara tantangan dari luar dapat ditemukan berupa penganiayaan kepada orang Kristen dari pemerintahan Romawi. Hal ini dilatarbelakangi dari jumlah penganut agama Kristen yang semakin bertambah banyak jumlahnya di Asia Kecil, sehingga pemerintah Romawi memberikan peraturan tentang pemerintahan secara khusus kepada orang Kristen. Surat Plinius kepada kaisar Trayanus yang isinya mengharuskan orang Kristen menyembah dewa-dewa Romawi dan khususnya Kaisar sebagai dewa. Peraturan ini tentu menantang orang-orang Kristen yang bertahan dalam imannya untuk tidak menyembah Kaisar. Akibatnya, banyak orang Kristen yang mati syahid (mati martir). Sehingga muncul konsep penyembahan terhadap orang-orang yang mati martir sejak kematian Polikarpus dari Smirna  (156/157). Ajang perselisihan teologis juga termasuk dalam konsep pneumatologi.  Tokohnya adalah Montanus dari Frigia yang mengajarkan akhir zaman sudah dekat (Montanisme). Di kota Neokaisarea muncul Thaumaturgos yang memakai metode adat dan kepercayaan lokal (dikristenkan). Akibatnya banyak pandangan kekafiran yang masuk ke dalam gereja. Sementara itu, Ireneus dari Lyon mengajarkan tradisi sebagai prinsip jaminan iman yang benar (iman ortodoks vs gnostisisme). Sementara itu, tema-tema lain yang muncul adalah Kristologi (doktrin tentang logos) dan tema eklesiologi (Wetzel 2000, 19).
Dinamika perkembangan gereja di luar wilayah kekaisaran Romawi juga tidak jauh berbeda dengan pertumbuhan gereja di luar kekaisaran Romawi. Yang paling berpengaruh dalam dunia kekristenan pada abad-abad  pertama di luar kekaisaran Romawi bukanlah budaya Yunani. Hal ini dibuktikan dari kekristenan di Suriah yang ditandai dengan pengaruh Injil Ibrani yang dianggap sebagai kitab Apokrif. Sedangkan pusat kekristenan pada saat itu terletak di Mesopotamia bagian utara yang ibukotanya Edessa. Pelopor teologi Suriah adalah Bardesanes (154-222) yang turut mempengaruhi literatur, kesusastraan dan juga teologi. Teologinya mengarah pada kebebasan manusia terutama bagi orang Kristen. Sedangkan Mari, merupakan pelopor penginjilan di daerah Persia. Tantangan yang dialami orang Kristen di Persia adalah pengaruh pemerintahan baru yang menginstruksikan Zoroastrisme sebagai agama Negara. Hal ini tentu mengakibatkan orang Kristen mengalami penganiayaan sehingga gereja memiliki keinginan untuk menjadikan gereja yang merdeka (Wetzel 2000, 20).
Prinsip teologis Gereja Barat yang memandang Rasul Petrus sebagai pemimpin duabelas murid Yesus dan turut juga menjadikan Petrus sebagai pemimpin gereja. Sedangkan perkembangan gereja  berikutnya berlangsung di Arabia. Tokohnya adalah Abhdiso yang mengabarkan Injil ke Arab Timur dan masih ditemukan keuskupan di Mazun (sekarang Oman). Sedangkan di India, Efraim menciptakan himne-himne yang menggambarkan pelayanan Rasul Tomas. Perkembangan gereja di Armenia sekitar tahun 300-an, gereja telah berdiri dan katalikos sebagai pemimpinnya. Gereja ini memiliki keunikan tersendiri karena berkembang dalam bidang literatur, terjemahan Alkitab, pembangunan gedung gereja dan pelayanan diakonia. Sedangkan di Georgia, penyebaran Injil dilakukan oleh Nino dan berhasil mengkristenkan Raja Georgia dan beberapa kitab Perjanjian Baru yang diterjemahkan ke dalam bahasa Georgia. Literatur yang memiliki arti penting dalam perkembangan kekristenan lainnya yaitu kitab Didache dan Injil Tomas. Menurut Alhambra, kitab Didache memuat tentang berbagai inti pengajaran dari murid-murid Yesus sekitar abad I dan II. Kitab ini ditemukan sekitar tahun 1837 oleh Philetheos Bryennios seorang Uskup Gereja Ortodoks di Nikomedia. Isi dari kitab ini adalah katekisasi moral, instruksi liturgis, yang berkaitan dengan ibadah pada hari minggu dan yang terakhir adalah tentang akhir zaman. Secara umum, kitab ini mengutip kitab Matius dan anehnya tidak menyinggung sedikitpun tentang kitab Markus. Sehingga memunculkan pemikiran pemikiran baru bahwa kitab ini muncul akibat dari kebingungan para rasul dalam memberikan pengajaran terhadap orang Kristen yang berasal dari luar Yahudi (Alhambra 2006, 1-22). 

Perkembangan kekristenan di Persia (Partia)
Kekristenan di Persia dimulai dari Edessa dan Arbela. Ada asumsi yang datang dari sebuah kronik (Arbela/Arbil) bahwa kekristenan tersebut sudah ada sekitar tahun 100 (England 1996, 15). Selain itu, kronik yang dicatat oleh seorang rahib bernama Mashih-azakha juga menggambarkan banyak peristiwa yang dialami oleh umat Kristen antara tahun 99 hingga 540. Sang rahib mengutip catatan seorang guru bernama Habil (Heuken 2008, 63). Dalam kronik tersebut terdapat peristiwa-peristiwa penting yang mendeskripsikan perkembangan kekristenan. Peristiwa-peristiwa tersebut antara lain: “Seseorang yang melakukan konversi, martir pertama, tempat kekristenan, masa-masa penganiayaan, pembangunan gereja, dan tingkat (perkembangan) gereja hingga tahun 225 (Foster 1972, 93).”
 Seseorang yang melakukan konversi tertuju pada satu nama, yaitu Paqida. Ketertarikan Paqida pada kekristenan berawal dari ketertarikannya kepada seorang misionaris bernama Addai, dan memutuskan untuk menjadi seorang Kristen. Tindakan yang dilakukannya ditentang oleh orangtuanya sendiri, dan akibatnya Paqida dikurung, namun berhasil meloloskan diri. Ia mengikuti Addai sekaligus menjadi muridnya. Mereka pergi ke desa-desa hingga pegunungan sekitar Adiabene untuk berkhotbah (Foster 1972, 93). Kronik itu juga menerangkan bahwa pada akhirnya Paqida ditahbiskan oleh Addai dan menjadi uskup yang pertama kalinya di kota Arbela/Arbil pada tahun 104 (Heuken 2008, 64).
Tahun 114, Paqida meninggal. Keuskupan di Arbil mengalami kekosongan hingga enam tahun lamanya. Pada masa keuskupannya, Paqida mengangkat seorang diaken bernama Samsum. Ia menjadi seorang yang diajukan namanya oleh uskup dari Bait-Zabdi untuk menjadi uskup Arbil menggantikan Paqida. Seperti halnya Addai, Samsum juga melakukan khotbah di desa-desa.  Pada suatu ketika, ia menetang praktik kepercayaan Zoroaster yang menjadikan anak-anak sebagai kurban dalam penyembahan api keramat. Di sisi lain, praktik tersebut merupakan bagian penting dan amat dijunjung oleh kepercayaan Zoroaster. Pada akhirnya, ia pun didiskriminasi dan dipenggal (123). Samsum menyandang sebutan sebagai martir pertama gereja di timur (Heuken 2008, 64).
Selain uskup yang menerima kejamnya penganiayaan, perlakuan yang sama juga didapat oleh umat Kristen. Penganiayaan terhadap umat Kristen datang dari para imam Zoroaster. Mereka menghasut para rakyat untuk menganiaya umat Kristen bahkan membakar rumahnya. Hal demikian terjadi di tahun 160 dan 179. Namun demikian, penganiayaan yang dilakukan bukan mengurangi jumlah umat Kristen, justru umat Kristen di Persia bertambah banyak. Hingga tahun 225, tercatat ada 15 uskup di Persia. Secara singkat inilah perkembangan kekristenan yang dicatat dalam kronik Arbil.
Pada awalnya, kekristenan di Persia, seperti yang tercatat dalam kronik Arbil, berada di bawah pemerintahan kekaisaran Partia. Namun dalam perkembangannya, pada tahun 226 telah terjadi perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh kekaisaran Sassanid. Kekaisaran ini berhasil merebut kekaisaran Partia, menjadikan Ktesifon sebagai ibu kota, dan kepemimpinan dipegang oleh raja Sassanid yang bernama Ardhashir. Kondisi ini pun membuat kekristenan berada di bawah pemerintah kekaisaran Sassanid (Foster 1972, 95).
Pada masa itu, kekaisaran Sassanid sedang berperang dengan kekaisaran Romawi dan kekalahkan diterima oleh Romawi pada tahun 256. Perang tersebut membuat umat Kristen (Siria) menjadi tawanan dan diasingkan di Persia. Hingga tahun 315, Konstantinus Agung mengirim surat kepada kekaisaran Sassanid yang saat itu dipimpin oleh Shapur II. Surat tersebut merupakan suatu permohonan agar umat Kristen dilakukan dengan baik. Namun demikian, Shapur II merespons surat tersebut secara negatif, karena ia berasumsi bahwa umat Kristen memihak kekaisaran Romawi. Akhirnya terjadilah penganiayaan dan diskriminasi secara besar-besaran terhadap umat Kristen di tahun 339-363 dan 379-401, bahkan penganiayaan ini lebih besar dibandingkan sebelumnya. Di sisi lain, penganiayaan didukung para imam Zoroaster yang tidak suka terhadap perkembangan kekristenan di Pesia. Tentu para imam tersebut didengarkan perkataannya, mengingat Zoroaster menjadi agama resmi kekaisaran. Dalam peristiwa penganiayaan ini, ada satu nama, yaitu seorang katolikos Ktesifon bernama Shimun. Ia dianggap sebagai pengkhianat kekaisaran dan dikukum mati dengan dipenggal. Umat Kristen juga diharuskan membayar pajak dengan tinggi agar mereka menjadi miskin, bahkan pada akhirnya mereka juga dibunuh. Selain itu, gereja-gereja juga menjadi objek pengrusakan. Seorang sejarawan abad V bernama Sozomenos yang menulis perihal peristiwa tersebut melaporkan bahwa korban dari penganiayaan tersebut kurang lebih sebanyak 16.000 jiwa (Heuken 2008, 64-65).
Kekristenan di Persia sempat mendapatkan perlakuan baik di awal abad V. Pada saat itu, pemerintahan di Persia berada di bawah pimpinan Yazdegerd I yang melakukan perdamaian dengan kekaisaran Bynzantium. Ia mentoleransi umat Kristen, bahkan menginstruksikan agar gereja-gereja dapat dibangun kembali. Oleh karena kebaikankan, maka dapat dikatakan bahwa keberlangsungan kekristenan dan gereja pada masa ini berjalan dengan baik (Heuken 2008, 69).
Pada masa kekristenan di Persia, pertikaian ternyata tidak hanya terjadi di antara pemerintahan Persia dan Romawi saja, namun pertikaian para teolog saat itu juga terjadi. Sebagai contoh, pertikaian yang terjadi antara Uskup Barsauma dengan Katolikos Babowai perihal pernikahan pejabat gereja. Babowai dikhianati, sehingga ia dipenjara dan dibunuh. Dengan begitu sidang pada tahun 486 menginzinkan diakon, imam, dan uskup mempunyai istri sebelum ditahbiskan. Pada awal abad VI, pelaksanaan peraturan gereja menjadi merosost. Banyak para uskup yang menikah, para rahib meninggalkan biara, dan jabatan gereja didapatkan dengan cara yang tidak wajar. Di tengah-tengah keadaan tersebut, muncul seorang katolikos baru bernama Mar Aba I. Ia memberikan pembaruan pada gereja, khususnya disiplin atau tata tertib gereja. Selain itu, ia juga membangun banyak sekolah (Heuken 2008, 70-71).      

Uraian Singkat Pekabaran Injil di India
Dalam Kisah Rasul Tomas[YS3] , kisah penginjilan Rasul Tomas di India dimulai setelah hari Pentakosta, di mana kedua belas murid Yesus mengundi untuk menentukan ke mana setiap orang diutus mengabarkan Injil. Rasul Tomas mendapat tempat di India, tetapi ia menolak. Kemudian Tuhan Yesus menampakkan diri kepadanya melalui mimpi agar ia pergi ke India, tetapi ia tetap menolak. Tuhan pun mengatur agar Tomas dijual sebagai budak kepada seorang pedagang dari India bernama Habban/Abban yang datang ke Yerusalem untuk mencari tukang kayu (Ruck 2008, 14) (Frykenberg 2008, 94-95).
            Di India, Rasul Tomas dipercayakan untuk membangun istana untuk Raja Gudnaphar. Akan tetapi, uang yang diterimanya untuk membangun istana digunakan untuk membantu orang-orang miskin. Ia melihat keadaan masyarakat di sana sangan miskin, bahkan banyak orang yang sakit dan mengalami kekerasan. Melihat situasi seperti inilah yang membuatnya memberikan uang pembangunan istana kepada orang-orang miskin untuk membantu mereka (Ruck 2008, 14) (Frykenberg 2008, 95-96). Dengan menggunakan uang kerajaan, Rasul Tomas sedang ‘mengajar tentang Tuhan yang baru, yaitu Tuhan yang menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, dan melakukan hal yang indah di dalam nama Allah” (Frykenberg 2008, 96).
            Suatu hari, Raja Gudnaphar berjalan-jalan untuk melihat pembangunan istananya yang baru. Ketika melihat bahwa pembangunan istana belum selesai dan uang untuk pembangunan digunakan untuk keperluan lain, Raja menjadi marah. Rasul Tomas pun menerangkan bahwa ia sedang membangun istana di sorga bagi Raja Gudnaphar. Raja itu menjadi sangat marah dan ia memenjarakan Rasul Tomas. Akan tetapi, sesudah Rasul Tomas melakukan beberapa mujizat, raja bersama dengan adiknya Gad menerima tiga tanda kekristenan, yaitu: minyak urapan, baptisan kudus dan perjamuan Kudus (Ruck 2008, 14) (Frykenberg 2008, 96).

Uraian Singkat Konsili dan Sinode pada Abad IV-VI dan dampaknya bagi kekristenan di Asia
Pada abad IV-VI, terjadi beberapa konsili dan sinode yang merumuskan tentang pengakuan iman rasuli dan merumuskan beberapa pemahaman kristologi yang ada mengenai tabiat Allah. Konsili ini membahas tema teologis dalam gereja mula-mula mengenai Allah Tritunggal. Sedangkan di dalam sinode, ada beberapa keputusan gereja mengenai aturan gereja: Pertama, Konsili Nicea, tahun 324. Konsili ini menghasilkan keputusan mengenai doktrin Allah Tritunggal yang akan menjadi milik semua gereja, termasuk gereja di luar Kekaisaran Romawi (Wetzel 2000, 43). Kedua, Sinode Isaac terbentuk pada tahun 410. Sinode ini pimpinan oleh Ishak, uskup Seleucia-Ctesiphon. Keputusan dari Sinode ini menyatakan uskup Seleucia-Ctesiphon sebagai primata dari Gereja Timur dan pemberian gelar ‘Katolikos'. Sinode ini juga menyatakan kepatuhan kepada keputusan Dewan Nicea dan memakai Pengakuan Iman Nicea (Moffett 1992, 154). Ketiga, Sinode Yaballaha terbentuk pada tahun 420. Sinode ini meresmikan Antkhiokia sebagai gereja induknya. Ada tiga hal yang dapat dilihat dalam sinode ini, yaitu; dalam proses organisasi mendapat pencapaian konsensus di antara para Uskup Persia. Kedua, menjadi tangan panjang pemerintah Persia. Ketiga, memperhatikan serta waspada dari patriark Antiokhia sebagai perwakilam dari Gereja Barat (Moffett 1992, 159).
Keempat, Sinode Dadyeshu terbentuk pada tahun 424. Sinode ini dibentuk karena adanya laporan dewan sebelumnya yang menyatakan bahwa Katolikos dari Seleukia-Ctesiphon adalah "tertinggi dan tunduk di antara para uskup dari Timur bersamaan dengan patriark Timur atau Barat." Dengan kata lain, mau menyatakan bahwa Gereja di Asia itu bebas "dalam Kristus" di bawah dari kepemimpinan Katolikos; tidak menentang, tetapi sama dengan Barat (Moffett 1992, 163). Sinode ini juga berhasil mendirikan keuskupan  Merw, di Margiana (Wetzel, 2000, 56). Kelima, Konsili Oukumenis di efesus, tahun 431. Konsili ini mengambil dua keputusan mengenai konsep Kristologis, yaitu konsep Nestorius (duofisitisme) ditolak dan konsep Kyrillos (monofisitisme) diterima. Konsep Kyrillos adalah konsep monofisitisme, kesatuan tabiat ilahi dan manusiawi di dalam Kristus diakui. Konsep Nestorius adalah konsep duofisitisme, tabiat manusiawi di dalam Kristus. Keenam, Konsili Kalsedon, tahun 451. Konsili ini menghasilkan dua keputusan, yaitu: Rasa persatuan yang mengajarkan untuk mengakui Dia sebagai Anak, Tuhan Yesus Kritus sempurna baik dalam keilahian dan kemanusiaan-Nya. Mengakui bahwa Dia adalah benar-benar Allah dan benar-benar manusia. Selain itu, se-‘ia’ se-‘kata’ mengenai ajaran tentang Kristus satu dan sama, Tuhan Anak Tunggal, sungguh Allah dan sungguuh manusia di dalam dua kodrat dan kodrat tersebut tidak dapat dicampur adukkan, dipisahkan dan tidak dapat dibagi (Wetzel, 2000, 44-45).
Keputusan-keputusan yang dihasilkan dalam konsili ternyata menimbulkan skisma, terutama pemahaman terhadap Kristologi. Khususnya untuk kawasan Asia, skisma yang muncul pasca Kalsedon pada tahun 451 dengan perumusan ‘Pengakuan Iman Rasuli’ membuat gereja di Asia terbagi menjadi 3 denominasi. Pertama, Asia Barat bagian Barat menganut Ortodoksi Khalkedonik, terdiri dari beberapa gereja, antara lain: Gereja Yunani Ortodoks di Asia Kecil, gereja Melkit. Secara formal, hubungan gereja ini dengan Barat belum terputus dan kesatuan prinsipil dengan gereja Roma Katolik masih ada. Kemudian Gereja Melkit, merupakan gereja yang  masih menganut paham mengikuti raja dan mendapat tempat istimewa karena mendapat dukungan dari pemerintah. Selain itu ada Gereja di Georgia, awalnya memiliki hubungan yang baik dengan gereja Armenia. Hubungan ini tidak berlangsung lama. Armenia segera memutuskan hubungan baik tersebut karena gereja Georgia mengikuti teologi Yunani-Ortodoks. Gereja Maronit, gereja ini membentuk gereja sendiri karena banyak orang Kristen yang menganut monotheletisme. Alasan lain pembentukan gereja ini karena Kaisar Heraklios tidak berhasil mempersatukan gereja Yunani-Ortodoks dengan gereja monofisit (Wetzel 2000, 50-52).
Denominasi kedua berada di Asia Barat bagian Tengah yang mayoritas menganut Monofisitisme, terdiri dari beberapa gereja, antara lain: Gereja Yakobit, melalui pelayanan Yakobos Baradaios eksistensi gereja monofisit di dalam perbatasan kekaisaran Romawi diselamatkan dan gereja Yakobit pun terbentuk (Wetzel 2000, 52). Kemudia Monofisitisme di Arab Utara. Suku Arab menganut paham monofisitisme dan pada saat itu Raja Ghassanid mengangkat Yakobos Baradaios ditahbiskan sebagai uskup daerah itu. Dari Kerajaan Ghassanid, gereja orang-orang kelana di Arab Utara diorganisir kemudian didirikan keuskupan-keuskupan kelana yang sebagian besar dari orang Arab di Palestina, dengan pemahaman yang sama yaitu monofisitisme. Selain itu ada Gereja Armenia. Gereja ini mengalami perselisihan dengan pemerintahan Persia, yang memaksakan mereka menganut paham zoroastrisme (Wetzel 2000, 54).
Denominasi terakhir berada di bagian Timur Asia Barat, di Persia, Arab, Asia Selatan dan Asia Tengah menganut Nestorianisme. Gereja-gereja tersebut antara lain: Gereja Nestorian di Persia, gereja ini membentuk dialek Suriah sendiri dan perkembangan untuk menganut paham Nestorianisme dipengaruhi oleh sekolah teologi. Gereja ini dipimpin oleh Seleukia Ktesifon; Gereja Nestorian di Asia Barat, gereja ini merupakan daerah perluasan dari Gereja Nestorian di Persia. Perkembangannya dapat terlihat saat beberapa keuskupan yang baru mulai didirikan, antara lain; (1) Merw (di Margiana) yang didirikan pada tahun 424 dan berubah menjadi keuskupan agung pada tahun 524. (2) Herat yang didirikan pada tahun 424 dan menjadi keuskupan agung pada tahun 585. Selain itu, beberapa keuskupan juga didirikan di Afghanistan; Gereja Nestorian di India, mayoritas orang-orang kristen di India menganut Nestorianisme; Gereja Nestorian di Arab, sama halnya dengan orang-orang kristen di India. Mayoritas orang-orang kristen di Arab juga menganut Nestorianisme dan disebut “al-Ibad” (hamba Tuhan). Wilayah Arab Timur memiliki 5 keuskupan di bawah metropolit Arab Timur, yaitu di Pulau Tarut, Pulau Muharrak, Hatta, Mazun dan Hagar. Wilayah Arab Timur membawa berita Kristen sampai ke arah Arab Selatan dan dapat mengembangkan paham uskup Nestorian; Gereja Nestorian di Asia Tengah, gereja ini menghidupkan misi yang luas dan yang menjadi pusat misinya ialah Keuskupan Agung di Merw. Perluasan kekeristenan terjadi di Asia Tengah melalui jalur perdagangan (Wetzel 2000, 55-58).

Kesimpulan
Setelah bertualang menjelajahi kekristenan pada abad I hingga VII, kelompok melihat bahwa kekristenan pada masa tersebut mengalami perkembangan yang pasang surut[YS4] . Di satu sisi, ada masa-masa ketika kekristenan mendapatkan posisi yang “nyaman.” Dalam arti, kekristenan berhasil mendapat perhatian para pemimpin dan penguasa, sehingga ada perlakuan baik dan dukungan dari para pemimpin pemerintahan, bahkan Kristen pernah menjadi agama resmi bagi suatu negara. Akan tetapi, sisi lainnya memperlihatkan masa-masa ketika kekristenan dilanda konflik eksternal maupun internal. Konflik eksternal terlihat ketika kekristenan dianggap mengganggu stabilitas politik pemerintahan, sehingga menjadi objek diskriminasi bahkan kekerasan. Selain itu, konflik internal terjadi ketika begitu banyak sumbangsi pemikiran teologis yang diberikan untuk menata pelaksanaan peraturan gerejawi, sehingga perpercahan tidak dapat dihindarkan demi mempertahankan pemikiran-pemikiran masing-masing. Namun demikian, melalui keadaan tersebut, kita dapat melihat kekristenan dengan corak yang begitu beragam dan kaya.




Daftar Pustaka
Alhambra, Gabriel Rehatta. Kitab Didache. Jakarta: Synaxis Press, 2006.
England, John C. The Hidden History of Christianity in Asia: The Churches of the East before the year 1500. Delhi: ISPCK, 1996.
Foster, John. Church History 1: The First Advance AD 29-500. London: SPCK, 1972.
Frykenberg, Robert Eric. Christianity in India: From Beginning to the Present. New York: Oxford Unity Press, 2008.
Heuken, Adolf. Agama Kristen di Asia: Dari Yerusalem sampai ke Beiing (abad ke-1 hingga ke-15). Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 2008.
Moffett, Samuel Hugh. A History of Christianity in Asia: Vol. 1. New York: Harper Collins Publisher, 1992.
Ruck, Anne. Sejarah Gereja Asia. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008.
Wessels, Antonie. Arab dan Kristen. 2001.
Wetzel, Klaus. Kompendium Sejarah Gereja Asia. Malang: Gandum Mas, 2000.



 [YS1]Gereja dalam pengertian institusional belum muncul.
 [YS2]Apakah Yerusalem dan Palestina pada abad I tidak termasuk dalam wilayah kekuasaan Kekaisaran Romawi?
 [YS3]Kisah Rasul Tomas hanyalah salah satu saja dari penjelasan tradisional atas kehadiran pertama Kekristenan di India.

Kelompok tidak teliti membaca literature yang menjelaskan kompleksitas Kekristenan di India pada enam abad pertamanya, baik dari sudut penyebaran, perkembangan dan berbagai tradisi yang berbeda-beda.
 [YS4]Kesimpulan yang terlalu umum. Sama sekali tidak menggambarkan realitas, pergumulan, sumbangan Kekristenan dalam masyarakat Asia di mana Kekristenan hadir.

Rabu, 23 Januari 2013

Ritus Dewasa Awal dan Pilihan Hidup



Ritus Dewasa Awal dan Pilihan Hidup

Pendahuluan

Where we love is home.
Home that our feet may leave,
But not our hearts.
From “Homesick in Heaven” by Oliver Wendell Holmes

            Tentu tidak mudah bagi kita untuk melangkahkan kaki keluar dari rumah dan tinggal jauh daro orang-orang terkasih kita. Namun itu merupakan sebuah jalan yang harus kita tempuh ketika usia menuntun kita untuk semakin matang dalam memilih jalan hidup. Dewasa awal adalah saat yang tepat untuk dapat hidup mandiri dan menempuh jalan yang telah dippilih. Bahkan diberbagai tempat terdapat ritual-ritual yang ditetapkan untuk mempersiapkan seseorang untuk menempuh dewasa awalnya secara mandiri. Dalam kesempatan kali ini, kelompok berusaha untuk menyajikan contoh ritual meninggalkan rumah.
Masa Dewasa Awal
Menurut Elizabeth B. Hurlock, Masa Dewasa Awal (Young Adult Hood) adalah masa pencaharian kemantapan dan masa reproduktif yaitu suatu masa yang penuh dengan masalah dan ketegangan emosional, periode isolasi sosial, periode komitmen dan masa ketergantungan, perubahan nilai-nilai, kreativitas dan penyesuaian diri pada pola hidup yang baru. Kisaran umurnya antara 21 tahun sampai 40 tahun. Pengertian lain dari Masa Dewasa Awal adalah merupakan satu tahap yang dianggap kritikal selepas alam remaja. Ia dianggap kritikal adalah disebabkan pada waktu ini manusia berada pada tahap awal pembentukan pekerjaan dan keluarga. Pada peringkat ini, seseorang perlu membuat pilihan yang tepat demi menjamin masa depannya terhadap pekerjaan dan keluarga. Pada waktu ini juga seseorang akan menghadapi dilema antara pekerjaan dan keluarga. Pelbagai masalah mula timbul terutamanya dalam perkembangan pekerjaan dan juga hubungan dalam keluarga. Menurut Teori Erikson, Tahap Dewasa Awal yaitu mereka di dalam lingkungan umur 20-an ke 30-an. Pada tahap ini manusia mula menerima dan memikul tanggungjawab yang lebih berat. Pada tahap ini juga hubungan intim mula berlaku dan berkembang.
Pada pertumbuhan fisiknya dewasa awal sedang mengalami masa peralihan dari masa remaja ke masa tua. Pada masa ini seseorang tergolong sebagai seorang pribadi yang benar-benar dewasa atau matang (maturity). Segala tindakannya sudah dapat dikenakan aturan-aturan hukum yang berlaku. Pada masa ini ditandai dengan adanya perubahan fisik, misalnya tumbuh bulu-bulu halus, perubahan suara, menstruasi dan kemampuan reproduksi. Hal inilah yang menandai adanya transisi fisik.
Secara nyata perubahan ciri fisik dewasa awal tidak dapat dilihat, karena merupakan kelanjutan dari perkembangan fisik pada remaja yang sangat pesat dan dapat dilihat secara nyata, tapi perkembangan fisik dewasa dianggap sebagai puncak perkembangan fisik. Karena dalam perkembangan fisik dewasa awal merasa kuat, maka kesehatan menjadi kurang diperhatikan dan dijaga. Memang hal ini kurang berpengaruh di masa dewasa awal, namun akan mempengaruhi perkembangan selanjutnya.
Menurut Piaget, pada tahap Masa Dewasa Awal ini, para dewasa muda sedang berada dalam tahap kognitif. Cara pemikiran orang dewasa biasanya sudah fleksibel, terbuka, adaptif, dan individualistik. Biasanya ditandai dengan kemampuan untuk menghadapi ketidakpastian, ketidakstabilan, sesuatu yang kontradiktif, ketidaksempurnaan, dan berkompromi.

Perkembangan Koginitif Dewasa Awal
Kognitif merupakan cara manusia berpikir dan mengetahui sesuatu hal. Proses kognitif meliputi, antara lain yaitu :
-       Perhatian terhadap suatu stimulus, memunculkan kembali ingatan suatu peristiwa, memecahkan masalah, dan memahami dunia fisik dan sosial, termasuk dirinya sendiri
-       Individu telah mencapai penguasaan, pengetahuan dan ketrampilan yang matang
-       Individu akan mampu memecahkan masalah
Oleh karena itu, pada masa dewasa awal ini, seseorang mungkin akan meninggalkan rumah dengan alasan-alasa seperti belajar ke jenjang yang lebih tinggi, mulai bekerja, memilih pasangan hidup, belajar hidup dengan suami/istri, mulai membentuk keluarga, mengasuh anak, mengelola rumah tangga, menerima tanggung jawab warga Negara, menemukan kelompok sosial yang menyenangkan.

1.        Perkembangan Kognitif
Model rentang kehidupan K.Warner Schaie tentang perkembangan kognitif melihat penggunaan intelek yang berkembang dalam suatu konteks sosial. Ketujuh tahapannya berkisar pada beberapa tujuan yang muncul pada berbagai tahap kehidupan. Tujuan-tujuan ini bergerak dari pemerolehan informasi dan ketrampilan (apa yang saya perlu ketahui) ke integrasi praktis dari pengetahuan dan ketrampilan (mengapa saya harus tahu). Tujuh tahap tersebut adalah sebagai berikut (Papalia et all, 2009.hal:140-141) :
a)    Tahap pemerolehan (acquistive stage)
Tahap dimana anak dan remaja mempelajari informasi dan ketrampilan sebagian besar sekedar mendapatkannya atau sebagai persiapan untuk turut serta di dalam masyarakat.
b)   Tahap pencapaian (achieving stage)
Tahap dimana dewasa awal menggunakan pengetahuan untuk memperoleh keahlian dan kemandirian.
c)    Tahap tanggung jawab (responsible stage)
Tahap dimana individu paruh baya memikirkan tujuan jangka panjang dan masalah-masalah praktis yang berkaitan dengan tanggung jawab mereka terhadap orang lain.
d)   Tahap eksekutif (executive stage)
Tahap dimana individu paruh baya bertanggung jawab terhadap sosial, menghadapi hubungan kompleks pada banyak tingkat
e)    Tahap reorganisasional (reorganizational stage)
Tahap dimana individu dewasa memasuki masa pensiun dan mereorganisasi hidup mereka sekitar aktivitas yang tidak berkaitan dengan pekerjaan.
f)    Tahap reintegrasi (reintegrative stage)
Tahap dimana dewasa yang lebih tua memilih untuk memfokuskan energinya yang terbatas pada tugas-tugas yang bermakna bagi mereka
g)   Tahap penciptaan warisan (legacy creating state)
Tahap dimana individu lanjut usia mempersiapkan kematian dengan merekam cerita hidupnya, mendistribusikan barang-barang milinya, dan hal serupa lainnya.
2.         Fase-fase kognitif dewasa awal ( Santrock, 2002. Hal.91-93) :
a)    Piaget percaya bahwa seorang remaja dan dewasa berpikir dengan cara yang sama, namun beberapa ahli perkembangan percaya bahwa baru pada saat masa dewasalah individu mengatur pemikiran operasional formal mereka. sehingga mereka mungkin merencakan dan membuat hipotesis tentang masalah-masalah seperti remaja, tetapi mereka menjadi lebih sistematis ketika mendekati masalah sebagai orang dewasa.
b)   Gisela Labouvie (1982,1986), integrasi baru pemikiran dari pikiran terjadi pada dewasa awal. Ia berpikir bahwa pada tahun-tahun dewasa akan menghasilkan pembatasan-pembatasan pregmatis yang memerlukan strategi penyesuaian diri yang sedikit mengandalkan analisis logis dalam memecahkan masalah.
c)    William Perry (1970) mencatat perubahan-perubahan penting tentang cara berpikir orang dewasa muda yang berbeda dengan remaja. Ia percaya bahwa remaja sering memandang dunia dalam dualisme pola polaritas mendasar, seperti benar/salah, kita/mereka, dan baik/buruk. Pada waktu kaum muda mulai matang dan memasuki tahun-tahun masa dewasa, mereka mulai menyadari perbedaan pendapat dan berbagai perspektif yang dipegang orang lain, yang mengguncang pandangan dualistik mereka.Pemikirandualistik mereka digantikan oleh pemikiran beragam, saat itu individu mulai memahami bahwa orang dewasa tidak selalu memiliki semua jawaban.
d)   K.Warner Schaie (1997), Ia percaya bahwa tahap-tahap kognitif Piaget menggambarkan peningkatan efisiensi dalam pemerolehan informasi yang baru. Namun, demikian seperti yang dinyatakan oleh Schaie, orang dewasa lebih maju dari remaja dalam penggunaan intelektualitas mereka. sebagai contoh, pada masa dewasa awal kita biasanya berubah dari mencari pengetahuan menuju menerapkan pengetahuan, menerapkan apa yang kita ketahui untuk mengejar karir dan membentuk keluarga.
Fase-fase kognitif dewasa awal (Santrock 2002 :92-93) :
a)      Fase mencapai prestasi (achieving stage) adalah fase dimasa dewasa awal yang melibatkan penerapan intelektualitas  pada situasi yang memiliki konsekuensi besar dalam mencapai tujuan jangka panjang seperti pencapaian karir dan pergaulan.
b)      Fase tanggung jawab ( theresponsibiity stage) adaah fase yang terjadi ketika keluarga terbentuk dan perhatian diberikan pada keperluan-keperluan pasangan dan keturunan. Fase tanggung jawab sering dimulai pada masa dewasa awal dan terus berlanjutkemasa dewasa tengah.


Santrock John.W.2002. Life Span Development “ Perkembangan Masa Hidup”. Erlangga. Jakarta.
Papalia et.all. 2009. Human Development “Perkembangan Manusia”Salemba Humanika. Jakarta.
Ritual meninggalkan rumah menurut tradisi Karo
Peberkaten
            Peberkaten merupakan kata yang berasal dari bahasa Karo. Asal katanya adalah berkat yang artinya berangkat. Sehingga Peberkaten artinya adalah pemberangkatan atau memberangkatkan seseorang meninggalkan rumah dan keluarganya. Tradisi peberkaten ini masih terus berlangsung hingga saat ini. Alasan seseorang menerima peberkaten ini adalah karena ia hendak melanjutkan pendidikan atau pekerjaan di tempat yang jauh (merantau), pindah tugas, dan hal-hal lainnya yang menyebabkan seseorang itu jauh dari keluarganya. Peberkaten itu merupakan ritual yang dilakukan dengan tujuan untuk memanjaatkan doa agar seseorang yang diberangkatkan tersebut berhasil dan selamat meski berada jauh dari keluarga dan juga tidak lupa kepada keluarga sekaligus memberikan nasihat dan petuah-petuah kepada orang yang diberangkatkan itu.
Praktik
            Peberkaten ini dilakukan atas usul orang tua dari seseorang yang hendak diberangkatkan tersebut. Namun keberlangsungan acara ini harus dihadiri oleh orang tua dan saudara-saudara dari orangtua yang disebut Senina, keluarga dari pihak ibu yang disebut Kalimbubu (dalam masyarakat Karo, kalimbubu ini disebut perwakilan Tuhan di bumi atau Dibata si niidah) dan saudara perempuan serta keluarganya dari pihak ayah yang disebut Anak Beru. Anak Beru ini bertugas untuk menyiapkan seluruh konsumsi yang dibutuhkan demi keberlangsungan acara.
Urutannya keberlangsungan acara:
            Sebelum acara dimulai, Anak Beru terlebih dahulu mempersiapkan konsumsi berupa ayam yang dimasak secara khusus yang disebut Tasak Telu. [1] Setelah masakan siap untuk disajikan, maka diserahkan kepada yang akan berangkat oleh pihak Kalimbubu. Seluruh pihak Kalimbubu akan menyerahkan Tasak Telu tersebut dengan memegangi piring tersebut bersama-sama disertai dengan memberikan kata-kata wejangan berupa doa dan pengharapan agar yang berangkat dapat berhasil ketika meninggalkan rumah. Wejangan itu juga disampaikan sambil menaburkan beras yang terbaik yang disebut Njujungi Beras Piher (disebut Beras Piher; Beras=sumber kehidupan dan Piher=keras=melambangkan semangat yang keras) ke atas kepala orang yang akan berangkat itu. Njujungi Beras Piher ini adalah salah satu upacara menaburkan beras di atas kepala dengan harapan agar orang itu dapat mencari beras (kehidupannya) dan memiliki semangat yang piher (keras) sehingga tujuannya tercapai. Beras Piher ini dijujungi sebanyak Sepuluhsada (sebelas) kali. Setelah itu, semua anggota keluarga dapat makan bersama.
Setelah selesai makan, seseorang yang hendak meninggalkan rumah itu diberikan wejangan dari seluruh keluarga yang ada. Wejangan itu dibagi atas tiga kelompok pembicara. Pertama, dari pihak orang tua dan saudara-saudaranya (orangtua dan Senina-nya). Kedua, pihak Kalimbubu. Ketiga, pihak Anak Beru. Ketiga pihak ini memberikan petuah-petuah dan juga memberikan uang yang dikumpulkan dari keluarga sebagai ongkos berangkat bagi seseorang yang hendak merantau itu. Kemudian, setelah menerima wejangan, orang yang diberangkatkan itu mengucapan terimakasih kepada seluruh keluarga yang hadir dan berjanji akan mengingat setiap petuah yang telah ia terima. Sekarang ini, setiap acara ritual maupun acara lain di tanah Karo, apabila sudah selesai akan selalu ditutup dengan doa. Termasuk acara peberkatken ini.

Hakikat dari acara peberkatken:
1. Keluarga besar ikut mendoakan setiap anggota keluarga yang berangkat merantau agar diberi keberhasilan oleh Tuhan.
2. Agar orang yang diberangkatkan itu mengingat tugas utamanya.
3. Agar orang yang berangkat itu tidak melupakan keluarga jika kelak ia telah berhasil.
4. Dengan adanya upacara yang seperti ini, kebersamaan dan keakraban antara seluruh keluarga akan semakin meningkat.

Pesan simbolik yang ada mewarnai setiap upacara peberkaten. Mulai dari pembuatan makanan, orang-orang yang terlibat di dalamnya hingga penyampaian wejangan-wejangannya.



[1]   Tasak Telu dalam bahasa Karo berarti masakan tiga jenis, yakni ayam buras rebus dengan bumbu khusus, cepera (Potongan ayam kampung - leher, sayap, kaki, hati-ampla - dimasak dengan tepung jagung sampai empuk dan berkuah kental. Tepung jagungnya harus dari bulir tua jagung Medan, agar menghasilkan kuah yang kental) dan sambah karet yakni sambal khas Karo dari cabai rawit, jeruk nipis, kecombrang, andaliman dan sedikit darah ayam dicampur dengan daging ayam yang telah dicuir-cuir.